Welcome to My World of Experience!

A life... Thousands laugh, millions tears, and much more than that. It's an experience, that noone cannot buy. Sharing the experience will make it live eternally, through memories... =)

The English Patient - Movie Review

Filed under Les Films et Plus (Movies and More...) by bubble_gunz on 21-10-2009

Ini adalah review pertama yang saya post di blog. I would really appreciate if you guys could leave comments and give me some suggestions.

Saya baru saja selesai nonton The English Patient, literally. Begitu selesai nonton saya langsung menghadap komputer dan mulai menulis, sebelum saya lupa mengenai film ini. Sebenarnya, sudah dari dulu saya pengen nonton film berbintang Ralph Fiennes yang ganteng. Tapi, kayaknya kok susah cari DVD film lama macam ini. Akhirnya, kemarin waktu jalan-jalan ke Kemang saya nemu DVD ini dan saya beli. Saya baru nonton sekarang, karena baru dapet mood-nya. =)

The English Patient yang berlatar belakang Perang Dunia II, berawal dengan jatuhnya sebuah pesawat di gurun Afrika. Dari puing pesawat Inggris ini, ditemukan seorang pria (Ralph Fiennes) yang mengalami luka bakar parah di sekujur tubuhnya. Ia kemudian diselamatkan dan dirawat, sebelum akhirnya diserahkan pada pihak tentara Kanada untuk terus mendapatkan perawatan. Ternyata, pria ini hilang ingatan, sehingga pihak tentara kesulitan mengidentifikasinya. Yang ia punya hanya buku sejarah Herodotus. Akhirnya, karena ia ditemukan sedang mengemudi pesawat Inggris, ia disebut The English Patient. Ia dirawat oleh Nurse Hana (Juliette Binoche) di sebuah desa di Italia yang penuh dengan ranjau bom peninggalan Jerman. Ketika sedang melakukan perjalanan, rombongan perawat dan korban perang ini dikejutkan oleh ranjau. Dan saat itu Nurse Hana kehilangan teman baiknya. Tidak ingin kembali merasakan kehilangan, ia memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan dengan rombongan, melainkan memisahkan diri bersama dengan The English Patient untuk tinggal di sebuah monastery yang terbengkalai. Hana merasa tempat itu akan membuat The English Patient merasa nyaman di saat-saat terakhir hidupnya.Hingga kemudian datang Caravaggio a.k.a Moose (Willem Defoe) yang merupakan bagian dari masa lalu The English Patient.

Lewat serangkaian flashback, mulai terkuaklah masa lalu The English Patient. Ternyata, ia bernama Count Laszlo De Almasy dan berprofesi sebagai pembuat peta di Afrika, khususnya di kawasan gurun pasir di Mesir dan kawasan Afrika Utara lainnya. Suatu hari dalam pekerjaannya, datang sepasang suami istri yang ikut dalam tim eksplorasi Almasy dan partnernya, Madox. Suami istri ini adalah Geoffrey Clifton (Colin Firth) dan Katharine Clifton (Kristin Scott Thomas). Almasy dengan segera jatuh cinta pada Katharine dan memulai sebuah kisah cinta terlarang di antara mereka. Lambat laun, Geoffrey mulai mengerti kebenarannya dan mengakhiri cinta segitiga ini dengan tragis.

Nurse Hana sendiri akhirnya berhasil mengobati trauma masa lalunya, di mana ia menganggap dirinya adalah kutukan karena semua yang ia cintai mati, dengan mencintai Kip Singh, seorang India yang bekerja untuk Inggris sebagai penjinak bom.

Well, overall menurut saya film ini bagus sekali. Dan sangat menyentuh dengan ending yang begitu menyakitkan. Jadi, saya tidak heran saat browsing di Google dan baru tahu kalau film ini menang Academy Award tahun 1996.  Karena, pertama setting-nya indah dan eksotis. Gurun pasir yang selama ini di benak saya panas dan kotor ternyata malah bisa jadi tempat romantis di film ini. Kedua, karena memang ceritanya indah (by the way, ceritanya based on novel dengan judul sama by Michael Ondaatje) dan mengalir dengan natural. Dapat dibedakan dengan mudah mana yang kejadian sekarang mana yang flashback. Jadi, penonton tidak bingung. Mungkin masalahnya, hanya di awal film. Karena belum terlalu familier dengan gaya penceritaannya, saya jadi agak bingung. Tapi, setelah nonton beberapa saat pasti ngerti kok.. Hal lain yang bikin saya suka film ini adalah caranya menggambarkan perbedaan. Bagaimana saat ekspedisi orang Mesir tetep adzan dan shalat sementara Almasy dan temen-temennya melanjutkan ekspedisi. Semuanya saling menghargai, hidup bersama dengan wajar, tanpa mencela agama satu sama lain. Juga kisah cinta Hana dan Kip yang beda suku. Tetap indah. Mengingatkan kita bahwa cinta itu universal. Tidak pandang suku, umur, dan hal-hal lainnya… Selain itu, yang membuat film ini jadi lebih hidup adalah akting dari Ralph Fiennes dan Kristin Scott Thomas. Dari awal saya bisa lihat bahwa mereka saling mencintai, walaupun di film it takes a while sampai Katharine berani menyatakannya. Dan dari akting mereka saya juga tahu ada perasaan bersalah menjalani cinta terlarang ini. Bahwa, Katharine memang harus meninggalkan Almasy (walaupun hanya untuk sementara) karena takut Almasy lebih tersakiti lagi. Saya tahu semua itu simply dari mata mereka yang berbicara.  Bukankah akting yang bagus itu adalah akting yang bisa menggambarkan konflik batin yang dihadapi bahkan tanpa harus bicara? Sayang sekali, Ralph Fiennes dan Kristin Scott Thomas tidak memenangkan Academy Award untuk kategori best actor dan best actress in leading role. Anywaaayyy, kisah cinta mereka berhasil bikin saya cry like a baby in the middle of the night

Kekurangan dari film ini adalah, buat yang tidak biasa nonton film Oscar, pasti akan bosan duluan dan bingung. Karena, film ini memang penuh kesunyian yang diperuntukkan bagi pemerannya untuk menggambarkan konflik batin yang dihadapinya. Bingungnya karena awalnya film ini seperti tidak berbentuk, hanya serpihan-serpihan puzzle yang harus kita rangkai sendiri. Tapi, setelah 30 menit - 1 jam, tidak perlu usaha lebih untuk memahami filmnya. Selain itu, menurut saya kekurangannya adalah saya masih kurang mengerti alasan Hana menetap di monastery itu. Untuk berlindung kah? Untuk memberi Almasy kenyamanan dalam hari-hari terakhirnya kah? Atau cuma alasan pribadi? Saya agak kurang mengerti. But, nevermind, mungkin emang sayanya yang nggak nangkep. =p

Saya rekomendasikan film ini untuk penggemar film drama dengan ending yang sama sekali tidak happy, penikmat film Oscar, dan semua orang yang pernah jatuh cinta. The English Patient berhasil membuat saya mengerti bahwa kehilangan yang orang kita cintai, mungkin tidak membunuh kita literally, tapi pasti ada bagian dari diri kita yang sudah mati saat ia pergi, entah berapa bagian… So, enjoy this 4.5 star movie, guys!(4.5 star itu hanya penilaian pribadi saya. Penilaian orang lain mungkin bisa berbeda…)

poster The English Patient

poster The English Patient

Favorite Quote:

  • Almasy:  “You’re wearing the thimble.”

Katharine: “Of course. You idiot. I always wear it. I’ve always worn it. I’ve always loved you.”

  • Almasy: “Every night I cut out my heart. But in the morning it was full again.”

Leave a Reply

Subscribe to RSS Feed Rss