Welcome to My World of Experience!

A life... Thousands laugh, millions tears, and much more than that. It's an experience, that noone cannot buy. Sharing the experience will make it live eternally, through memories... =)

Nine -Movie Review-

Filed under Les Films et Plus (Movies and More...) by bubble_gunz on 09-02-2010

Yeah, yeah, daftar to-do-list satu persatu terpenuhi. Hari ini saya akhirnya merasakan nikmatnya XXI buat nonton Nine. Film musikal yang udah lama banget bikin saya penasaran. Bukannya karena apa, tapi bertabur bintang! Ada Nicole Kidman, Penelope Cruz, Kate Hudson, sampe Fergie segala. Asik dah. Here the review goes.

Pertengahan tahun 1900-an, seorang sutradara Italia, Guido Contini (Daniel Day-Lewis) mencoba membuat filmnya yang kesembilan berjudul Italia. Tetapi, dalam proses pembuatannya, ia menemukan banyak kesulitan. Ia sulit menemukan ide untuk skrip dan juga tidak dapat berpikir jernih untuk totalitas pembuatan filmnya kali ini. Di sepanjang film, akan diceritakan bahwa Guido memiliki nafsu yang besar untuk memiliki segalanya. Ia seseorang yang serakah. Dan keserakahannya ini digambarkan melalui adegan musikal oleh wanita-wanita yang mewarnai hidupnya. Ada bayangan ibunya (Sophia Loren) yang menjadi tempat berkeluh kesal Guido meskipun sebenarnya ibunya sudah meninggal. Desainer kostum Lili La Fleur yang menajdi teman baik Guido (Judi Dench) dan tampaknya selalu memahami Guido. Ada juga pasangan perselingkuhannya Carla Albanese (Penelope Cruz) yang sudah punya suami tetapi tetap tidak bisa berhenti mencintai Guido. Istrinya yang bernama Luisa (Marion Cotillard) yang mulai kehilangan kepercayaan atas Guido namun mencoba bertahan dalam pernikahan mereka. Stephanie (Kate Hudson), jurnalis yang diam-diam merayu Guido untuk melakukan affair lain. Ada pula aktris kesayangannya Claudia Jensen (Nicole Kidman) yang cukup tahu diri tidak menjalin hubungan dengan Guido walaupun diam-diam mencintainya. Dan ada Saraghina (Fergie) yang menjadi sebab trauma masa lalu Guido.

Pada akhirnya, semua menjadi berantakan karena wanita-wanita tersebut dan keserakahan Guido. Filmnya terancam dan masa depan Guido sebagai sutradara pun dipertaruhkan.

Jujur, ini film musikal yang paling sulit untuk saya pahami. Selama ini kayaknya saya nonton film musikal biasa-biasa aja. Dari Moulin Rouge, Phantom of The Opera, sampai Sweeney Todd (khusus yang terakhir agak creepy sih ya). Tapi, yang ini susahnya karena menggabungkan imajinasinya Guido dengan dunia nyata. Saya agak bingung awalnya saja sih. Tengah-tengah saya mulai mengerti, sudah bisa terbaca mana yang imajinatif, mana yang nyata.

Bagaimanapun, Nine mengetengahkan konflik yang bisa terjadi di balik film. Selama ini kita hanya tahu film saat sudah tayang. Terpikirkah bagaimana kisah di balik film itu? Bagaimana kalau tiba-tiba sutradaranya kehabisan ide?  Bagaimana kalau sutradaranya memiliki konflik rumah tangga yang membuat konsentrasinya terpecah? Bagaimana kalau sutradaranya memiliki skandal dengan istri orang? Di sini digambarkan dengan jujur bagaimana beratnya menjadi sutradara, apalagi sutradara yang agak serakah dan dikelilingi banyak wanita. Affair seakan sudah biasa dilakukan, istri pun hanya bisa mencoba bertahan. Intinya, sutradara hanya manusia biasa. Manusia yang punya kehidupan pribadi dan mungkin ia tidak sesempurna film yang ia sutradarai.

Yang saya suka dari film ini adalah kejujurannya. Mengetengahkan konflik-konflik yang tabu dalam dunia entertainment dengan gamblang. Entertainment memang bisnis yang kotor dari sananya. Kotor dalam artian banyak godaan ya. Tergantung dari kitanya juga sih, tergoda apa nggak.  Saya juga suka musiknya.  Film musikal kalo musiknya jelek ya bikin muak yang nonton. Tapi, ini musiknya cukup catchy, bagus, dan mengungkapkan isi hati dari aktris dan aktornya dengan baik. Liriknya nge-rhymes dan indah. Keren deh. Saya paling suka yang Be Italian by Fergie. Top banged. Saya juga suka sama mix antara dunia nyata sama dunia imajinatifnya. Pada akhirnya membantu kita untuk memahami konflik batin yang dihadapi tokoh-tokoh dari film ini. Kostumnya juga pas banget. Yang sensual ya sensual banget, yang mewah ya mewah banget. Sesuai lah sama plotnya.

Kekurangan film ini menurut saya adalah endingnya yang ngguantung buanget. Kaget saya pas tiba-tiba lampu cinema udah nyala sedangkan saya masih melongo keasikan nonton. Agak aneh sih ending-nya. Kalo menurut saya, alangkah baiknya kalo endingnya bukan cuma diliatin Guido lagi bikin film Nine (SPOILER ALERT!), tapi perlihatkan saat film itu sukses di pasaran atau seenggaknya ditonton orang banyak. Jadi, saya nggak penasaran film yang dibikin oleh Guido (yang menandai comeback-nya itu) sukses atau nggak. Atau, sutradara merasa tidak penting sukses atau tidaknya film Guido? Yang penting adalah Guido berhasil mengendalikan keserakahannya dan bisa kembali membuat film? Tergantung sudut pandang orang.

Overall, lumayan sih. Menggambarkan betapa wanita bisa membuat lak-laki jadi sukses, atau malah sebaliknya, hancur berantakan. Tergantung laki-lakinya. Sebab, kalo seinget saya, cobaan laki-laki itu ada tiga. Wanita, jabatan, dan harta.  Film ini benar-benar menunjukkan godaan dari ketiganya untuk seorang laki-laki. Sutradara yang berkuasa, berduit, dan dikelilingi banyak wanita. How to deal with them, itulah inti dari film ini. Moral of the storynya simpel: jangan serakah. Syukuri apa yang dimiliki.

Saya kasih 3.5 out of 5  for great music, good movie, but not too good as I expected. Recommended for people who adore musical movies. Karena, musiknya bagus dan megah banget. Bikin saya inget sama kabaret jaman dulu. Sempatin deh nonton sebelum abis masa tayangnya di 21. Then, don’t forget to leave me a comment! =)

The Time Traveler’s Wife

Filed under Les Films et Plus (Movies and More...) by bubble_gunz on 07-02-2010

Yup, akhirnya saya berhasil dapet DVD (bajakan) The Time Traveler’s Wife di Kemang. Bagaimana ceritanya saya ngidam nonton film ini bisa dibaca di post sebelumnya. Anyway, here is the review.

The Time Traveler’s Wife berkisah tentang Henry DeTamble (Eric Bana) yang memiliki chrono-impairment atau cacat krono yang membuatnya bisa menjelajah waktu. Ia bisa ke masa lalu atau ke masa depan. Tetapi, masalahnya adalah dia tidak bisa mengendalikan kapan akan menghilang atau menjelajah waktu, tidak bisa mengendalikan ia akan ke mana, dan ia selalu muncul di tempat lain di waktu yang lain pula tanpa pakaian. Henry juga hanya bisa menjelajah ke masa lalu tanpa bisa mengubah hal-hal yang memang harus terjadi, seperti misalnya kematian ibunya. Henry kemudian bertemu dengan Clare Abshire (Rachel McAdams) yang sepertinya telah lama mengenal Henry. Clare bercerita bahwa saat Henry tua, ia akan menemui Clare yang masih berumur 6 tahun. Beberapa kali mereka bertemu di masa lalu Clare (atau masa depan Henry), sampai mereka berteman dan Clare jatuh cinta padanya. Di kehidupan masa kini yang normal, Henry juga mulai jatuh cinta pada Clare dan akhirnya mereka menikah. Awalnya semua terasa pas. Semua bahagia. Hingga kemudian konflik mulai muncul ketika Henry selalu menjelajah waktu tanpa peringatan sebelumnya dan Clare harus menjadi pihak yang selalu menunggu, tanpa tahu kapan Henry akan muncul kembali. Belum lagi usaha Clare untuk mempunyai anak yang selalu berbuah keguguran karena masalah genetik Henry.

Menonton The Time Traveler’s Wife, seperti juga novelnya, serasa menyusun kepingan puzzle satu per satu, hingga lengkap potongan puzzle-nya dan kemudian kita sadar dan mengerti, disertai celetukan, “ooohhh…”. Tidak serumit film Oscar tentunya, tapi cukup menyentuh dengan sad ending yang menguras emosi. Sebab endingnya sendiri ironis. Justru karena kemampuannya itulah akhirnya Henry harus berpisah dengan Clare (SPOILER ALERT!).

Saya agak kecewa waktu nonton filmnya, karena sebuah alasan klasik movie based on novel: bagusan novelnya. Lebih banyak kenangan yang terjadi di antara mereka berdua di novelnya. Juga lebih banyak narasi yang menggambarkan exactly how they felt about each other. Yang paling mengganggu adalah peran Gomez dan Charisse dikurangi. Padahal, di novel diceritakan Gomez punya rasa yang terpendam buat Clare. Cukup vital sebenarnya peran Gomez ini. Sahabat baiknya Henry, tapi punya rasa buat Clare. Namun, pada akhirnya kekurangan ini bisa dimaklumi dengan alasan durasi.

Yang saya suka dari film ini adalah chemistry antara Eric Bana dan Rachel McAdams lumayan juga. Natural dan so sweet banget. Eric Bana juga aktingnya udah semakin bagus, dibandingkan sama aktingnya di Troy dan Hulk. Dan versi filmnya sangat dianjurkan buat yang kurang mudeng sama novelnya. Karena, di sini ceritanya lebih simpel. Saya nggak harus hafalin umurnya Clare dan Henry setiap waktu, mungkin karena nggak terlalu banyak perjalanan waktu Henry diceritakan di sini. Kalaupun ada, kita bisa mengira-ngira sendiri umur Henry berapa, karena ada visualisasinya yang jelas. Henry muda lebih sering berambut gondrong, sementara Henry agak tua berambut cepak, dan Henry tua ada ubannya. That’s the beauty of visual art. Simpel.

Overall, 4 out of 5. Bagus, orisinil, menyentuh, dan cukup menghibur buat film fiksi tentang penjelajah waktu dengan plot utamanya adalah tentang cinta. Yang suka sad ending seperti saya wajib deh nonton film ini. Dibarengi dengan baca novelnya jadi lebih oke karena kita jadi punya perbandingan sendiri. Tapi, yang perlu dijaga adalah jangan sampai ekspektasinya berlebihan. Filmnya jauh lebih sederhana dan tidak selengkap novel. Dan ini juga film yang lebih mengandalkan ekspresi serta akting dari artisnya untuk menggambarkan konflik batin yang mereka alami. Dialognya lumayan sih, tapi tetap kekuatan utamanya di chemistry di antara pemainnya plus akting mereka. Nicely done by Eric Bana and Rachel McAdams, anyway.

Who’s Back? Hell Yes, I Am!

Filed under Ma Vie (My Life) by bubble_gunz on 07-02-2010

Senang bukan kepalang akhirnya balik ke Jakarta. Saya excited banget balik ke Jakarta, karena selama di Malang diem-diem saya bikin list what-to-do sekembalinya dari Malang. Dan here are the list:

1. Nonton di XXI! Yaolo, saya kangen banget sama XXI. Sumpah deh. Di Malang filmnya jadul semua. Avatar? Sherlock Holmes? What the hell? This is February, right? Not.. like… December 2009?

2. Hunting DVD bajakan di Kemang, terutama judul The Time Traveler’s Wife. Karena, saya baru namatin novelnya di Malang. dan langsung jatuh cinta berat. By the way, saya punya novel itu udah 2 tahun lebih. Kenapa baru dibaca? Berat banget novelnya. Bingung saya dengan permainan waktunya. Kenapa sekarang ditamatin? Karena, saya butuh hiburan BANGET di Malang. Nggak ada XXI, novel pun jadi dah. Kenapa harus DVD bajakan? Salahkan 21 yang nggak mau nayangin film ini dan salahkan juga distributor DVD yang nggak mau rilis DVD originalnya film ini. Kalo mau ditambahin salahin juga IM2 yang lemot jadi nggak bisa download filmnya di rapidhare (sama bajakannya juga sih). Saya nggak punya pilihan lain selain harus beli DVD bajakannya kan? *mencari pembenaran*

3. Jalan-jalan. Ha, setelah liat Surabaya yang amburadul dan setiap persimpangannya nggak ada papan petunjuk, saya baru merasa bersyukur kuliah di Jakarta yang tidak mendiskriminasikan pendatang baru. Surabaya sepertinya menganggap semua orang yang ke sana udah tahu jalan, atau bawa peta, atau bawa GPS yang berfungsi dengan benar, atau bawa ortunya yang kelahiran Surabaya asli, ATAU orang yang rajin buka kaca jendela dan bilang sama orang terdekat: “Pak, nuwun sewu, jalan tol ke Malang di mana yah???” (mungkin jawabannya seperti ini: “oh ngulon, mbak.” tanpa ngasih tahu arah manakah yang Kulon??? Gah!) Plis deh, Pak Walikota Surabaya, do you really expect anyone on this earth would know the direction to Jalan Darmo Raya?? Or everyone would know exactly where to turn left or right? Seriously? How about me??? *merasa terkucilkan* Intinya, saya kangen sama jalan di Jakarta. Yang walaupun nyasar, pasti bakal nemu jalan balik lagi. Kenapa? Karena ada teknologi jenius bernama papan petunjuk di setiap persimpangan.

4. Ke FE. I guess there’s nothing wrong with MaBa (a.k.a Mahasiswa Bangkotan) like me spending time at future-ex-campus. Mumpung belum ex, mending dipuas-puasin nongkrong di kampus kan?

5. Hedon. Jalan dari 1 mall ke mall lain. Manjain mata. *belum puas hedon di Tunjungan Plaza*

6. Bertemu F-Sok, teman-teman seperjuangan yang masih betah di FE (kecuali Helen yang udah capcus). Ngobrol ketawa, dan nyembur lagi kayak biasa. How I miss our time together. =)

7. Nyobain varian rasa cheese cake baru di Secret Recipe. Adudududuh, iklannya di majalah bikin saya ngiler. Apa daya masih di Malang, nggak bisa ngapa-ngapain selain mantengin itu majalah sambil ngebayangin rasanya.

Nah, itulah list saya. Semoga semua bisa dijalankan. Sambil konsultasi skripsi tentu saja. =)

Home: A Place Where I Could Be with My Friends

Filed under Ma Vie (My Life) by bubble_gunz on 05-02-2010

Tags :

Saya lagi di Malang, masih berusaha refreshing dari usaha cari data skripsi yang membawa saya bolak balik Depok-Jakarta hampir tiap hari. Untungnya sudah selesai tuh pencarian data. Dan sukur juga, di Malang statistiknya udah komplit. Tinggallah saya menghabiskan saat-saat terakhir di Malang, sebelum kembali ke Jakarta dan konsultasi skripsi tercinta.

Saya bener-bener bahagia dengan kepulangan saya ke Malang kali ini. Walaupun cuma sebentar dan nggak selama biasanya, entah kenapa saya senang nggak ketulungan. Bukannya kemaren-kemaren pas pulang ke Malang nggak senang, tapi ada satu hal yang bikin luar biasa. Kumpul. Semua teman yang saya anggap dekat di Malang bisa dikumpulkan dalam satu forum, bahkan dengan pacar saya, Fauzi. Biasanya, setiap saya ke Malang saya menemui mereka secara terpisah-pisah. Tapi kali ini satu paket. Komplit.

Semua berawal dari keinginan saya traktiran ultah saya tanggal 22 Januari. Saya pikir udah lama juga saya nggak traktir temen-temen saya di Malang. Akhirnya, ya saya ajaklah mereka. Untungnya semua mau dan bisa. By the way, sahabat-sahabat saya yang lagi ada di Malang ada tiga, Laras, Ratih, dan Aflah.

Malam itu saya traktir mereka di Ikan Bakar Galunggung, sama Fauzi juga. Setelah puas makan, becanda (sebenernya mereka banyakan menghina dina saya), dan ngobrol, kami ke Batu, mau ke BNS. Sayang, Aflah nggak bisa ikut karena ada janji rapat di UB. Tapi, okelah. Dia sudah cukup menghibur dengan keahliannya. True womanizer. =) Di BNS, Laras, Ratih, dan Fauzi bikin surprise buat saya. Enak-enak ngantri wahana cinema 4D, tiba-tiba mereka nyamperin bawa kue ultah, lengkap sama lilinnya. Uoooohhh… Surprised! Sumpah, saya kaget campur terharu. Ini dua sahabat terbaik saya sejak SMP, sempat-sempatnya kepikiran bikin malu di BNS. Semua orang ngliatin saya yang dengan noraknya teriak-teriak sambil tunjuk-tunjuk kegirangan. Tapi, karena saya luar biasa senang, biarin deh norak. Habis itu, kita foto-foto di taman lampion dengan berbagai gaya norak.  Biar deh, urat malu saya putus khusus hari itu. Saya pulang jam 12 malem hari itu. Capek. Tapi happy.

Besoknya, saya dan Laras janjian fitness bersama. Dan Fauzi join.  Saya baru pertama nyobain fitness di daerah Dieng, ternyata lumayan. Saya seneng sauna dan whirlpool bareng Laras setelah keringetan habis fitness. Kegiatan ala mafia itu juga kita isi sama sesi curhat. Tapi, yang paling bikin seneng adalah saat melihat Fauzi dan Laras bisa bener-bener get along with each other. Mereka bahkan bisa jalan bareng dengan saya ditinggal di mobil. Buat gambaran betapa senangnya: Laras ini adalah soulmate saya. Sahabat sejak SMP yang tahu sejelek-jeleknya saya, tapi masih nerima saya. dan Fauzi adalah my-hubby-to-be. Seneng banget kan kalo saya bisa jalan sama mereka berdua tanpa mereka harus ngerasa nggak enak satu sama lain? Semua udah santai dan nggak jaim-jaiman lagi.  So natural.

Dan puncaknya adalah hari ini. Saya kemaren sore tiba-tiba punya ide gila ke Surabaya tanpa peta, tanpa petunjuk, tanpa tahu apa-apa. Saya langsung hubungi Ratih, dia bilang oke. Saya hubungi Aflah, dia juga oke. Saya tawarin Laras buat penculikan berencana dari Blitar (karena beberapa hari setelah acara fitness bareng itu dia ketrima kerja di Blitar), dia nggak oke. Anywaaayyy.. 2 out of 3. Lumayan lah.

Jam 9-an saya berangkat dari rumah bareng Fauzi dan Aflah, jemput Ratih dulu di rumahnya baru berangkat ke Surabaya. Pede banget dah! Singosari, lewat. Pandaan, lewat. Porong, lewat. Tol, lewat. Baru keluar tol 2 menit, saya langsung nyasar.  Haduh. Payah ah. Mana Surabaya beda banget sama Jakarta yang nyasar pun pasti bakal kembali ke jalan yang benar karena banyak plang penunjuk jalan. Surabaya ini, asli ruwet. Orangnya juga pembalap-wanna-be semua. Pindah-pindah jalur mulu. Nyaris srempetan mulu. Huaahh… Oia, akhirnya saya bener-bener nyasar dan akhirnya malah nemu Sutos duluan. Lha, ini mau ke Tunjungan Plaza kok malah nemunya Surabaya Town Square??? Tapi, dengan segala insting bodoh kami, akhirnya nyampe juga TP.

Lapaaarrr… Langsung ke Hachi-Hachi Bistro. Ya ampun, untuk ukuran orang dengan perut karet kayak saya, ini KENYANG banged! Apalagi saya pesen nasi+sushi. Ampun-ampunan deh. Dosa rakus saya mendapatkan balasan yang setimpal. Sebenernya, yang paling cerdas di sini adalah Aflah karena hanya pesan sushi. Itu pun dia udah nyerah kekenyangan walaupun kita udah nyomot-nyomot sushi jatah dia.

Ada kejadian aneh di sini. Berawal dari sebutir ijo-ijo yang Fauzi identifikasi sebagai wasabi. Aflah bertanya, “Apakah itu?” Fauzi bilang, “Semacam sambelnya sushi.” Langsung dimakan dong sama Aflah. Huahahahaha… Dia kepedesan, mencoba makan sushinya biar ngilangin pedes. Bodohnya, itu sushi kan besaaaarr banget. Susah buat disumpit. Lama banged deh dia nahan pedes dengan muka minta belas kasihan. =) Hachi-hachi bistro diakhiri dengan foto-foto dan saling hina dina buat nunggu makanan turun dengan sukses.

Setelah capek jalan-jalan dan liat-liat TP, kami berakhir di J.Co. Minum kopi sambil foto-fotoan lagi. Becanda dan saling nyela kayaknya udah jadi rutinitas. Sampe pegel ini perut berguncang-guncang terus gara-gara ketawa.

foto bareng @J.Co TP

foto bareng @J.Co TP

Oke, pulang. Lagi-lagi, dua menit setelah keluar dari parkiran TP, kami nyasar. Yaoloooo… Tulung. Surabaya ini susah amaaaaattt… Masak saya sampe nyasar ke Ngemplak cuma demi masuk tol Dupak? Astaga. GPS hape pun nggak membantu. Akhirnya, pake GPS tradisional saja: tanya orang pinggir jalan + telpon Ibunya Ratih. Wuah, manjur. Akhirnya, saya nemu A. Yani (yang naudzubillah macetnya), Cito, dan tol Waru (HORE!). Pulangnya di tol hujan deres banget pake petir. Adududu, sampe pandangan cuma sebatas 100 meter ke depan. Nggak banget deh. Untung kami selamat sampe tujuan.

Uoohh… Bangga saya berhasil menuntaskan petualangan ke Surabaya. Biarpun dibekali insting pas-pasan ala cewek dan keanehan Aflah (“Pokoke jangan kiri! Kiri itu nggak bener!!” Serasa kiri selalu jalan setan). Tapi, yang paling bikin saya seneng adalah kumpul sama sahabat-sahabat saya sebelum balik ke Jakarta. Saya seneng bisa pake bahasa Jawa lagi. Bisa inget-inget masa SMA lagi. Bisa ketawa gara-gara istilah-istilah anehnya Ratih, jayusnya Aflah, dan mulut siletnya Fauzi. Totally fun. Dan saya merasa utuh lagi. Saya merasa nggak butuh apa-apa lagi. Punya pacar dan sahabat-sahabat saya di Malang, itu sudah cukup. I want to have all of them. Forever.

Dan semua ini akan saya jadikan motivasi untuk segera menyelesaikan masa studi di Jakarta, kemudian segera pulang lagi. Soon.

Ini arti sahabat buat saya. Ada untuk saya dan bikin saya merasa utuh lagi. Saya yakin sahabat kayak gini nggak gampang ditemuin. Tapi, guys, begitu kalian nemu yang semacam ini, saran saya: keep them. Saya nggak jarang kesel sama sahabat-sahabat saya, tapi saya yakin persahabatan kami worth to fight for. Saya mau mempertahankannya, I won’t let go. Dan karena saya percaya quote ini: “Nggak ada persahabatan yang sempurna. Yang ada orang-orang yang berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya.” Inilah saya, mempertahankan hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya.

Saya nggak jarang kesel sama sahabat saya. Saya bahkan pernah mendiamkan salah satu sahabat saya hampir dua tahun sebelum saya kembali dekat sama dia. But, that experience was even more the reason to keep them. Karena, waktu saya kehilangan salah satu dari mereka, rasanya aneh. Ya, saya masih hidup, tapi nggak lengkap. It felt wrong. Dan akhirnya pun saya baikan dengan dia. Berhenti mengungkit masa lalu dan berusaha memaafkan. Kemudian memulai semuanya dari awal.

Makanya, guys, berjuanglah demi sahabat-sahabat kalian yang bener-bener kalian anggep orang terdekat kalian. Ada kalanya sahabat bikin kesel atau pengen nabok karena nggak sepaham atau malah menyakiti kita. Kalo udah kayak gitu, inget aja saat-saat bersama kalian. Semua akan mengingatkan kalian bahwa persahabatan itu layak diperjuangkan dan dipertahankan. Karena, mereka pernah ada untuk kita. Mungkin bahkan akan selalu ada buat kita nantinya. Trust me, you do not want to lose this kind of friend.

Terakhir, untuk Laras, Ratih, dan Aflah: terima kasih atas semua kenangan di Malang (dan Surabaya kota sesat). Kalian akan masuk ucapan terima kasih skripsi saya nanti atas semua kebodohan dan ketawaan kita. Untuk Fauzi: terima kasih telah jadi sopir sehari dan menjalani cobaan SIM A-nya dengan tabah. I thank God I have you, guys! Sooooo…thankful! More days together in the future, I hope! =)

(Un)Lucky She’s in Love with Her Best Friend

Filed under Ma Vie (My Life) by bubble_gunz on 19-01-2010

Tags :

Saya cuma punya beberapa sahabat. Mungkin terhitung sedikit bagi beberapa orang lain. Untuk mengetahui berapa tepatnya sedikit itu, saya akan beri gambaran. Saya hanya ingin mengundang 10 orang di hari pernikahan saya. Yang lain boleh datang atau tidak, terserah mereka. Tapi 10 orang ini harus datang. Karena, saya sangat membutuhkan mereka. Mungkin juga untuk meyakinkan saya melangkah ke jalan sesat bernama pernikahan. Well. Nikah juga masih lama. Mari kita kembali pada kisah sahabat saya.

Sahabat saya terdiri atas beberapa lapisan. Satu lapisan mungkin tidak bisa berbaur dengan lapisan lain karena sudah beda pemikiran, beda tempat kenal, beda kenangan, dan sejuta alasan lain. Ada lapisan sahabat dari SMP yang sampai sekarang masih berhubungan (terlalu) baik. Ada sahabat saya dari SMA yang sekarang sudah mencar entah ke mana, tapi masih merasa saling memiliki. Dan ada juga sahabat jaman kuliah yang menemani perantauan saya di UI. Sekarang ini cerita saya berkaitan dengan hanya salah satu lapisan sahabat tersebut.

Saya sahabatan bertiga. Dua cewek, satu cowok. Dulu kami nggak terpisahkan. Duduk selalu bertiga, ke kantin selalu bertiga, nyontek ulangan bertiga, kelompok apapun selalu kami usahakan sama-sama, bolos pun selalu bertiga. Dulu semua baik-baik saja. Sampai saat kuliah kami terpisah. Selama hampir 4 tahun kuliah saya masih tetap menjaga hubungan dengan sahabat-sahabat saya ini. Nggak ada yang salah. Mereka tetep selalu ada buat saya meskipun jauhan.

Hingga kemudian petaka barusan terjadi (literally, barusan). Sahabat saya yang cowok itu, (kita sebut dia sebagai ‘cowok’) menyatakan suka sama sahabat cewek saya (sebut dia sebagai ‘cewek’). Saya totally shocked. Setelah lama banget sahabatan, baru sekarang mereka ada komitmen lebih??? Harus nunggu masing-masing pihak merasakan cinta lain dan patah hati dulu??? Omigod, cinta memang harus menanti. Saya awalnya setuju-setuju saja, nggak ada tuh rasa jealous atau apa. Tapi, saya mulai mengingatkan diri saya untuk siap kehilangan dua sahabat saya ini ketika mereka butuh waktu lebih buat berduaan. Bagaimanapun, three is a crowd, saya percaya itu.

Lalu kemudian, baru beberapa saat, si cowok ngilang (ini juga literally). Si cewek udah nyoba hubungin ke semua kontak yang dia punya dan si cowok bener-bener nggak mau hubungin dia lagi. Si cewek kemudian curhat dengan sedih banget ke saya. Yang mana saya juga bingung harus gimana nanggepinnya. Mau dukung si cewek, berarti ngerusak hubungan saya sama si cowok. Mau dukung si cowok, ntar malah si cewek ngambek sama saya. Maka, saya berusaha netral. Tapi, entah kenapa semakin lama curhatnya semakin nelangsa. Saya coba hubungin si cowok pun juga nggak ada respon. Dan sebagai perempuan, tentunya hati kecil saya mendukung si cewek dong. Nggak rela kalo dia (seperti) dibuang begitu saja oleh si cowok. For the sake of solidarity, I would consider him my friend no more. Tapi, lalu saya bertanya lagi, benarkah sikap saya ini?

Saya termasuk orang yang percaya pada persahabatan beda gender. Saya percaya cowok dan cewek bisa sahabatan tanpa melibatkan rasa suka, asalkan mereka bener-bener berkomitmen untuk itu. Tapi, kalo pada akhirnya toh mereka saling suka, ya seperti inilah konsekuensinya. Awalnya mungkin indah karena selama sahabatan kita juga udah kenal sama sahabat kita. Tapi, begitu ada sedikit masalah, jadilah rusak semua. *Gawat* Nggak cuma kehilangan pacar, kita juga kehilangan sahabat. Nah lho. *Dobel gawat* Apalagi, kalo sahabatannya bertiga kayak saya. Ada 1 pihak yang bingung harus ngapain, bingung gimana harus ambil posisi, bingung gimana mau nanggepin curhatan… In this case, I am the confused one. *Tripel gawat* T_T

Saya ingin sekali meng-keep agar kami tetap bertiga. Saya ingin tetap berhubungan dengan si cowok dan si cewek. Dan saya juga ingin mereka get over it dan kembali jadi sahabat, seperti dulu. Tapi, kalo dilihat dari situasinya, semua udah terlanjur bobrok. Mereka nggak mungkin sahabatan lagi. Dan saya? Karena si cowok menolak berbicara pada saya dan saya hanya dapat cerita dari satu sisi pandang saja (yaitu dari sisi si cewek), maka mau tidak mau saya condong pada si cewek dan ada sedikiiiiittt… rasa ilfil pada si cowok.

Anywaaayyy… Bukan posisi saya untuk menghakimi si cowok (padahal tadi pas YM-an sama si cewek saya udah mengeluarkan umpatan berbagai bahasa buat si cowok. Such a hypocrite.). Terlepas dari semua umpatan saya saat sesi curhat dengan si cewek, saya berharap sekali si cowok cerita dari sisi dia. Biar saya bisa mendamaikan mereka. Biar saya nggak bingung lagi dengan keadaan yang nggak jelas ini.

Moral of the story? Do not take side. Do tell the confused one the whole story. Do not fall in love to the one whom you consider your very best friend. Karena semua hanya membuat semua keadaan jadi complicated dan ada ancaman untuk persahabatan tersebut. Kalo memang mau cinta sama sahabat sendiri okelah. Asal tahu aja konsekuensinya yang paling sering terjadi. There is no such thing called turn back the time. Sukur deh kalo beneran jadi, tapi kalo nggak, semua nggak bakal bisa kembali seperti dulu. Pasti ada sakit, pasti ada kehilangan, pasti ada yang berubah, dan persahabatan itu, nggak akan bisa dimiliki lagi.

Nah sekarang saya? Saya sakit untuk sahabat-sahabat saya, saya kehilangan mereka, saya merasa persahabatan kita berubah, dan nggak mungkin saya bisa memiliki ketiganya secara utuh lagi. Yang ada setelah ini hanya saya - si cowok dan saya - si cewek. Nggak ada lagi saya - si cowok - si cewek. Sedih. But that’s life. Life is short and it sucks most of the time (Dr. Isobel Stevens in Grey’s Anatomy).

Avatar 3D the Movie

Filed under Les Films et Plus (Movies and More...) by bubble_gunz on 22-12-2009

“Hore…” itu adalah kata pertama yang terucap ketika akhirnya Daddy (ini beneran saya manggil ayah saya dengan sebutan Daddy bukan karena gaya-gayaan) mau nonton Avatar yang 3D di Surabaya Town Square. Daddy maunya kita jalan-jalan aja di Tunjungan Plaza sambil makan enak di Hachi-Hachi Bistro.

Saya hampir aja nyerah ngebujuk-bujuk Daddy buat nonton di Sutos, gara-gara nggak sabar pengen nonton. Padahal, dipikir-pikir di Jakarta sudah ada pacar yang setia menanti untuk nonton Avatar bareng yah. Apa daya, namanya juga manusia, nggak sabaran. So.. dengan kalimat ampuh pamungkas dan gaya cute kitty face ala puss in the boots-nya Shrek, “Dad, kapan lagi nonton bareng Tita yang seringnya di Jakarta? Udah dibela-belain pulang ke Malang di tengah stres garap skripsi, masak nggak mau nonton sih??” Daddy nyerah. Senang.

Anywaaayy… Here the review goes.

Avatar merupakan film sci-fi yang menceritakan mengenai kehidupan manusia di masa mendatang yang butuh banget mineral bahan tambang bernama unobtainium. Mineral ini langka dan mahal banget harganya di bumi. Makanya, manusia ngebelain menginvasi Pandora demi dapet mineral ini. Di Pandora, manusia dibantu oleh marine untuk mengamankan proses penambangan.

Di Pandora, ternyata sudah ada penghuni yang dianggap primitif oleh manusia, namanya The Na’vi. The Na’vi ini sangat cinta pada alam dan mencoba menghargai keseimbangan alam. Nggak heran kalo Pandora ini hutannya masih alami dan indah banget.

Di Pandora, manusia nggak bisa bernafas karena nggak ada oksigen. Sehingga, berinteraksi dengan The Na’vi untuk menjelaskan maksud damai mereka juga susah. Akhirnya, dengan bantuan Dr. Grace Agustine (Sigourney Weaver), mereka berhasil menciptakan Avatar. Yaitu, badan persis dengan The Na’vi tapi dikendalikan oleh manusia. Jake Sully (Sam Worthington) adalah bekas marine yang cacat lumpuh karena perang di bumi. Kakaknya ikut terlibat dalam proyek Dr. Grace, tapi akhirnya mati di bumi. Jake diminta menggantikan kakaknya sebagai Avatar karena DNA mereka cocok. Maka, berangkatlah Jake ke Pandora.

Dalam misinya, Jake diberi kepercayaan oleh Colonel Miles Quatrich (Stephen Lang) untuk meyakinkan The Na’vi pindah dari Hometree yang menyimpan banyak cadangan unobtainium.

Akhirnya, lewat serangkaian kecelakaan, avatar Jake bertemu dengan Neytiri, anak dari kepala suku salah satu klan The Na’vi. Jake berhasil meyakinkan mereka dan perlahan Jake diajari The Na’vi Way oleh Neytiri dan Tsu’tey, kakaknya. Jake mulai bisa menghargai alam dan makhluk-makhluk lain di Pandora. Jake mulai merasa bahwa Hometree adalah rumahnya dan ia juga telah jatuh cinta pada Neytiri.

Mengetahui bahwa Jake tidak mungkin lagi bisa melakukan diplomasi untuk meyakinkan The Na’vi pindah dari Hometree, Colonel Quatrich memutuskan untuk menghancurkan Hometree. Di sinilah Jake mulai menghadapi dilema. Di satu sisi ia sangat mencintai Neytiri dan sudah menganggap bagian dari The Na’vi, tapi di sisi lain, berjuang bersama The Na’vi adalah pengkhianatan terhadap rasnya, manusia.

Ya ampun. Speechless saya mau review ni film. Bagus deh. Sumpah. Special effect-nya nomor satu, unik, penggambaran Pandora juga detailnya keren, suku The Na’vi dan bahasanya juga meyakinkan banget. Dan makna ceritanya itu, dalem banget. Menyindir manusia yang nggak bisa menghargai alam dan seringkali menganggap orang yang mencintai alam itu primitif. C’mon, guys, it’s not just businesswe’re doing here on earth. What about being a leader to balance the life and the earth??

Saya juga suka porsi yang cukup buat banyak elemen di sini. Ada drama yang digambarkan pada adegan Jake yang merasa menemukan hidup baru karena ia kembali punya kaki ketika jadi Avatar. Ada juga adegan percintaan antara Jake dan Neytiri yang juga pas, nggak berlebihan. Adegan aksi dan thriller-nya pada adegan penghancuran Hometree dan perang The Na’vi vs. Marine. Adegan humornya juga ada, membuat film ini nggak terlalu suram.

Kalaupun ada kekurangan, itu karena saya nonton 3D dan nggak ada subtitle-nya. Penyakit saya yang nggak bisa denger American English kambuh dan nggak semua kalimat ketangkep. Lainnya, “blukuthuk-blukuthuk”. Tapi, saya cukup ngerti kok. Cukup mudah dipahami meskipun nggak ada teksnya.  Saya juga mikir kalo ini cerita terasa kurang orisinil. Jatuh cinta pada masyarakat lokal? We’ve already had Pocahontas and The New World. Di mana bedanya? Fantasi dan efeknya. Itu jawaban saya. Pocahontas dan The New World (sama-sama based on cerita Kapten John Smith yang jatuh cinta pada Pocahontas, suku Indian di Amerika) cuma ber-setting di Amerika. Sedangkan, Avatar ber-settingkan di Pandora, dunia khayalan dari James Cameron, sang sutradara. Di sini pasti dibutuhkan imajinasi yang tinggi buat menggambarkan Pandora dengan detail dan membuat penonton mengerti, betapa indahnya Pandora dan betapa bodohnya menghancurkan alam seindah itu.

Saya bener-bener appreciate sama James Cameron, sebagai sutradara dan writer. Dia sanggup gitu ya nunggu 15 tahun demi bikin film ini. Sempat dianggap sutradara yang nggak lagi sukses setelah Titanic (semacam supernova, bersinar begitu terang kemudian padam), ia tetap sabar demi bikin film obsesinya ini dibikin dengan sempurna.  Sebenernya, James Cameron sudah siap bikin Avatar segera setelah Titanic, yaitu sekitar tahun 1999. Tapi, ia merasa teknologi 3D yang ada saat itu belum mumpuni untuk memenuhi visinya akan film Avatar. Dan, jika memaksa bikin tahun segitu, biayanya bakalan gede banget dan nggak ada yang mau danain dia. Maka, ia menunggu. Setelah dilihat teknologi makin keren ditandai dengan animasi Gollum di trilogi The Lord of The Ring dan film 3D yang semakin menjamur dan dapat diterima masyarakat, James Cameron mulai meneruskan proyek ambisiusnya ini.  Voila, jadilah Avatar yang super keren ini. By the way, sedenger saya film ini juga merajai box office. Terbukti abgus ‘kan? :)

Overall, bagus sekali. Sekelas The Lord of The Ring menurut saya. 5 of 5 stars I gave to this perfect epic movie. Ide ceritanya oke, alur ceritanya seru, animasi dan special effect-nya jago, dan ending-nya memuaskan. Bagus buanget dueh. Dan bagi yang kecanduan Avatar, tenang aja, James Cameron bilang kalo film Avatar sukses, dia sudah nyiapin dua sekuelnya (HOREEEE..!!!). The movie is worth to watch (banget) and the sequel is worth to wait, guys! Keep going on this project, James Cameron! You’re doing great! Another perfect job after Titanic! :)

Old Dogs

Filed under Les Films et Plus (Movies and More...) by bubble_gunz on 05-12-2009

Oke, lanjut posting marathon-nya. Sekarang movie review dari Old Dogs.

Old Dogs merupakan film keluarga yang mengetengahkan kisah persahabatan antara Charlie (John Travolta) dan Dan (Robin Williams) yang merupakan sahabat dari kecil sampai dewasa. Charlie sendiri orangnya playboy dan lebih ringan dalam memandang hidup, sedangkan Dan lebih melankolis karena masih teringat Vicki (Kelly Preston) yang dinikahinya di Miami, pasca cerai dari istrinya. Pernikahan ini akhirnya dibatalkan karena saat itu tampaknya Dan mabuk berat dan tidak menyadari apa yang ia lakukan.

Sekarang, Charlie dan Dan bekerja di bagian marketing perusahaan olahraga yang sedang menjajaki kemungkinan kontrak kerja sama dengan perusahaan Jepang. Di saat penting seperti itu, Vicki muncul kembali dan memberi tahu Dan bahwa sebenarnya ia adalah ayah dari anak-anak Vicki yang kembar. Vicki akan segera masuk penjara karena ia adalah aktivis lingkungan yang didakwa bersalah dalam suatu kasus. Untuk itu, ia meminta bantuan Dan untuk mengasuh anak-anaknya, karena dan adalah ayahnya. Jadilah, Charlie dan Dan bahu membahu dalam mengasuh anak dengan susah payah. Ditambah lagi dengan adanya wish list dari anak-anaknya yang membuat mereka hampir tidak punya waktu untuk memenangkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Jepang.

Film komedi ini dijamin bikin semua orang satu bioskop ngakak mampus. Saya saja ketawa sampe nangis waktu adegan obat Charlie dan Dan tertukar sehingga efek sampingnya malah aneh dan tidak sesuai harapan (Klop deh, habis nangis gara-gara sedih New Moon langsung nangis gara-gara ketawa Old Dogs). Adegan meninabobokkan gorilla dengan lagu All Out of Love juga nggak kalah bikin ketawa kenceng banget. Bagus deh, komedinya emang bener-bener lucu dan nggak jayus. Walaupun, kadang saya agak kesel sama anak-anak kecil yang merepotkan itu. Rewel sekaliiii… Susah deh ngurus anak kecil. Apalagi oleh dua orang yang sama sekali tidak berpengalaman mengasuh anak kecil.

Tapi, khas film Disney lainnya, walaupun bikin ngakak mampus, tetep dalem dengan pesan moral. Bahwa, sesukses apapun karier kita, keluarga tetep nomor satu. Khas film keluarga Disney lainnya deh yang pesennya tidak berkesan menggurui, tetapi dikemas menarik lewat film dengan aktor sekaliber John Travolta dan Robin Williams.

Watch it, guys! Dijamin nggak nyesel. Terutama buat yang lagi stress karena UAS, skripsi, laporan magang, seminar, apalah namanya itu yang butuh ketawa, karena film ini so damn funny sampe bikin sakit perut gara-gara kebanyakan ketawa.

3.5 out of 5 for fresh jokes and comedy!!!

New Moon

Filed under Les Films et Plus (Movies and More...) by bubble_gunz on 04-12-2009

Akhirnya nonton New Moon juga setelah krisis keuangan berlalu. Saya dan Fauzi nonton New Moon hari Kamis kemarin di Plaza Senayan XXI. Waktu ngambil tiket di loket M-Tix, kami tergoda buat rally nonton. Jadi, setelah nonton New Moon, mau lanjut lagi nonton yang lain. Mumpung nomat ini… :) Masalahnya, film apa? Yang dipengenin cuma Accidental Husband (demi puas nonton Jeffrey Dean Morgan, meskipun udah nonton dvd bajakannya) dan Old Dogs. Akhirnya, dengan pertimbangan udah nonton Accidental Husband dan kayaknya Old Dogs lucu, kami putuskan buat nonton New Moon jam 15.15, terus lanjut Old Dogs jam 19.00. Woo hoo… Oke, New Moon dulu, Old Dogs belakangan.

New Moon merupakan sekuel dari film Twilight yang laris manis di pasaran, mengejutkan semua pihak, bahkan kritikus. Seperti Twilight, New Moon juga based on novel by Stephenie Meyer. Rencananya, dua sekuel lanjutannya, eclipse dan Breaking Dawn juga akan difilmkan, berturut-turut pada tahun 2010 dan 2011.

New Moon dibuka dengan adegan mimpi Bella Swan (Kristen Stewart) yang takut tua karena pacarnya yang vampir abadi, Edward Cullen (Robert Pattinson) selamanya membeku di usia 17 tahun. Pada hari ulang tahun Bella, Edward dan saudara-saudaranya yang lain, terutama Alice Cullen (Ashley Greene) membuat pesta ulang tahun di rumah Cullen, keluarga vampir yang hanya meminum darah binatang. Tak disangka, tak dinyana, akibat kecerobohan Bella, tangannya berdarah dan memancing Jasper Cullen (Jackson Rathbone) yang belum sepenuhnya bisa mengendalikan diri terhadap darah manusia. Sejak saat itu, Edward merasa keberadaan dirinya telah membahayakan Bella. Edward akhirnya memutuskan untuk pindah bersama keluarganya dan berbohong pada Bella bahwa ia sudah tak menginginkannya lagi.

Sejak kepergian Edward, Bella tidak punya semangat hidup. Namun, ia menyadari bahwa ilusi bayangan Edward bisa muncul setiap ia melakukan hal bahaya. Untuk itu, Bella memutuskan untuk belajar sepeda motor pada Jacob Black (Taylor Lautner), teman masa kecilnya. Ternyata, perlahan Jacob bisa menyembuhkan luka Bella dengan caranya sendiri. Semua tampak membaik hingga tiba-tiba Jacob menghilang. Bella yang penasaran mencari Jacob dan menemukan fakta yang mengejutkan. Ditambah lagi konflik dengan Victoria yang belum selesai, film New Moon juga untuk pertama kalinya memperkenalkan keluarga Volturi, sosok penguasa dalam dunia vampir.

Aduh, sumpah ya. Terserah deh orang bilang film ini ngebosenin atau apa. Semua temen-temen saya juga nulis di twitter bahwani film nggak memuaskan ekspektasi, terserah lah. Tapi, kayaknya ini adalah film pertama yang bikin saya nangis dari awal sampe akhir. Nggak tahu juga kenapa. Mungkin karena lagi PMS dan over sensitif atau emang karena pengalaman pribadi atau memang karena ceritanya sedih. Saya memang paling suka sama seri Twilight Saga yang New Moon karena (akhirnya) Edward pergi dan digantikan sama Jacob yang lebih lucu dan nggak lebay.

Yang saya suka banyak. dari kostumnya Volturi pas abad pertengahan, Taylor Lautner dan kelompok serigalanya yang kompak dan hobi telanjang dada (ehem), musik soundtracknya, dan akting pemainnya. Akting pemainnya makin natural dibanding Twilight. Dan menang jauh dibandingin akting trio Harry Potter yang masih agak gimana gitu, kadang lebay, kadang kaku, kadang nggak keluar chemistry-nya. Di New Moon, chemistry Rob Pattinson dan Kristen Stewart lumayan lah (mungkin karena aslinya emang pacaran) dan antara Kristen Stewart dan Taylor Lautner pun tampak sederhana. Sahabat, tapi juga terbersit rasa cinta, walaupun sedikit. Nggak usahlah dibandingin sama film Oscar, tapi menurut saya film ini overall bagus kok.

Yang saya nggak suka… Adegan kebersamaan Bella sama Jacob kurang banyak! Jadi, agak kaget waktu adegan terakhirnya Bella bilang, “I love you, Jacob.” I love you dari mana kalau ngeliat adegan kebersamaannya cuma dikit? Mbok ya diliatin lebih banyak gimana Bella sering menghabiskan waktu di La Push biar Jacob selalu bisa melindungi dia dari Victoria, kayak di novelnya. Tapi, mungkin ini masalah durasi juga ya. Kalo semua yang di novel dimasukin di film, bisa pegel nih pantat duduk terus di teater.

Dan yang paling saya nggak suka, adegan masa depannya Bella pas jadi vampir dalam penglihatannya Alice. Yaolo, penting banget ya lari-larian dengan slow motion begitu? Sekalian kasihin air mancur, nari, ada lagu India-nya, jadi deh Bollywood. Nggak penting banget nih adegan. Kenapa harus lari-larian sih? Kalo mau gambarin masa depan Bella jadi vampir bareng Edward apa kek gitu. Berburu mangsa bareng kek, tiduran di padang rumput mereka itu kek… Yang jelas nggak perlu lari dengan slow motion. Nggak penting dan nggak jelas juga.

Pendapat pribadi saya, selain masalah filmnya, saya nggak suka Rob Pattinson pas mau menampakkan diri di tengah kota Volterra. Ampun deh, Mas. Kalo mau pamer bodi, kenapa nggak sewa personal body trainer kayak Taylor Lautner? Eneg jadinya ngeliat bodinya Rob Pattinson yang aneh dan nggak seksi kayak Taylor Lautner.

Yah, overall bagus buat movie based on novel. Saya sama sekali nggak kecewa. Nyesel cuma gara-gara nggak jadi nonton di The Premiere gara-gara beberapa pihak bilang filmnya nggak bagus. Padahal, menurut saya bagus-bagus aja. Yah, saya memang punya selera yang aneh dalam film.

Adegan favorit saya adalah semua adegan yang ada Carlisle-nya (Peter Facinelli)! Dari adegan Carlisle masih tinggal sama Volturi, sampe Carlisle jahit lukanya Bella. Setiap adegan Carlisle berhasil bikin Fauzi gondok karena saya melongo tolol ngeliatin Carlisle dan nyuekin dia. :) Sebagai bonus, saya kasih gambar Carlisle dalam beberapa adegan di New Moon.

Carlisle when joined the Volturi

Carlisle when joined the Volturi

carlisle treated bella

carlisle treated bella

Saya juga suka adegan waktu Bella tenggelam di pantai La Push dan mulai muncul bayangan Edward, sampai Jacob dateng dan narik tangannya. Kesannya kayak Jacob beneran bisa mengusir kenangan buruk bersama Edward dalam pikiran Bella. Apalagi, pas itu soundtrack-nya cukup menyayat.

Saya kasih 3.5 out of 5 aja deh. Karena, despite people said that this fil is boring and disappointing, it still made me cry though. Love it!

32nd Jazz Goes to Campus

Filed under Ma Vie (My Life) by bubble_gunz on 30-11-2009

Saya nulis ini di sela-sela saya nulis review movie selanjutnya. Agak jenuh sih, makanya cerita yang lain dulu…

Hari ini saya ke JGTC di kampus FEUI, Depok. Awalnya, saya dateng sama temen-temen (Ayu dan Helen) jam setengah sebelas karena panitia ngumuminnya acara mulai jam 10.00. Begitu saya datang, langsung ambil oli gratisan di booth Castrol, lalu nunggu booth Wall’s dibuka demi dapet Conello gratis. Tapi, itu conello kok kayak nggak dateng-dateng yah? Mana acaranya yang ternyata dijadwalkan mulai jam 11 juga molor sampai lebih dari sejam. Udah deh, nyerah. Saya pulang dulu, mau tidur. Mengingat kemaren baru tidur jam enam pagi gara-gara keasyikan nge-blog dan nonton ulang The Bodyguard (asoy deh, langsung nonton dua kali dalam sehari film ini. Nggak puas kalo cuma sekali lihat Kevin Costner-nya).

Saya balik lagi sekitar jam setengah tujuh bareng Imaniza dan Fauzi. Langsung ke stage C, karena Maliq & D’essentials bakal main di situ. Oia, jadi di JGTC ini ada 3 stage. Stage A di parkiran gedung Nathanel Iskandar, stage B di plaza upacara Dekanat, dan stage C di parkiran gedung B. Kayaknya pengisi acara yang bagus-bagus itu di stage A dan stage C. Niat awal saya, jam tujuh (versi rundown panitia), saya nonton Maliq di stage C, terus hijrah ke stage A untuk nonton YWF (Yovie Widianto Fusion Band) dan Syaharani. Apa daya, acara molor. Pas saya nyampe, di stage C masih Indra Aryadi and Friends. Nggak papa deh, instrumental jazz nya keren banget. Apalagi drummernya. Setelah itu, masih ada Indro Hardjodikoro Trio yang ternyata masih make drummer yang sama dengan Indra. Makin keren aja.  Saya jadi langsung jatuh cinta sama jazz yang instrumental gitu. Skill individualnya jadi keliatan sih. Baru deh Maliq nya muncul sekitar jam 9 kurang. Penonton histeris, nyanyi-nyanyi lagunya Maliq, dan heboh goyang. Sementara saya dan Fauzi terdiam. Nggak ngerti juga sama musiknya Maliq. Nggak terlalu kenal lagunya juga.

Akhirnya, waktu lagu terakhir kami cabut (bareng Imaniza tentunya). Kami makan bentar di stand makanan yang super lengkap, ada takoyaki, ada kebab, hot dog, sampe mie kuah. Komplit dah! Setelah itu, Ima pulang. Saya dan Fauzi memutuskan untuk balik ke Stage A, buat nonton Yovie. Untungnya, stage lumayan sepi. Saya langsung ngerangsek sampe ke depan, pinggir panggung. Demi lihat Yovie dari deket. Hadeeehhh… Yovie mainnya mantep banget. Kayaknya dia main pake hati, semua emosi dia keluarin saat bermusik, dan terlihat intens banget. KEREN! Musiknya juga bagus banget, memperlihatkan skill masing-masing personilnya. Basisnya juga keren, tapi konyol sih. :) Pemain perkusinya juga heboh banged. Aduh, overall YWF asoy bangeeeet…. Saya terhanyut banget waktu mereka mainin instrumentalnya Untukku. Romantis deh sama Fauzi. :)

YWF selese sekitar jam sepuluhan. Saya membatalkan niat nonton Syaharani karena sudah malem dan badan ini rasanya sudah rontok. Minta tidur, minta istirahat… Nyerah deh.

JGTC oke lah. Standnya lengkap, artisnya juga top, cuma sayang ya, ujan. Pawang hujannya kurang ampuh tuh. :) Bikin nonton agak terganggu dengan payung dan basah-basahan. Overall, kalo minjem kata-katanya Ima, JGTC makes me falling for jazz, and falling for Yovie Widianto even more. I love him so damn much!

Song of The Day: Coba Katakan by Maliq & D’Essentials, Untukku by Yovie Widianto Fusion Band.

Australia

Filed under Les Films et Plus (Movies and More...) by bubble_gunz on 30-11-2009

Ini juga udah lama saya tonton lewat DVD original (bangga gitu karena bukan bajakan) karena ketinggalan pas film ini maen di bioskop. *kesel*

Australia menceritakan mengenai Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman) yang ingin ke Australia untuk memaksa Lord Ashley menjual Faraway Downs, peternakan mereka di Australia dan membawa Lord Ashley pulang ke Inggris. Untuk tujuan ini, Sarah berangkat ke Australia, melawan tentangan dari semua kerabatnya yang mengatakan bahwa Australia masih merupakan negeri yang liar dan primitif, tidak cocok untuk seorang Lady. Di hari kedatangannya di Australia, Sarah dijemput oleh The Drover (Hugh Jackman). Dan ternyata, ketika mereka sampai di Faraway Downs, Lord Ashley telah meninggal, terbunuh oleh senjata suku aborigin.

Sarah awalnya akan menjalankan niat awalnya untuk menjual Faraway Downs untuk King Carney, niat ini juga didukung oleh tangan kanan dari Lord Ashley, Neil Fletcher (David Wenham). Namun, tiba-tiba muncul seorang anak blasteran aborigin dan kulit putih, Nullah (Brandon Walters), yang memberi tahu bahwa Neil sejatinya bekerja untuk King Carney (Bryan Brown) dan telah mengkhianati keluarga Ashley selama ini.

Dari sinilah perjuangan Sarah, dibantu dengan seluruh pegawai Faraway Downs, termasuk The Drover, dimulai. Mereka harus menggiring ternak mereka ke Darwin dengan personil yang minim dan halangan-halangan yang diciptakan oleh Neil. Dan di tengah ekspedisi ini, akhirnya Sarah menemukan cinta lagi pada diri The Drover.

Semua tampak indah dan sempurna, hingga perang dunia meletus dan merembet ke Australia. The Drover memutuskan untuk meninggalkan Sarah dengan alasan membantu perang. Padahal, sebenarnya ia takut terluka oleh cintanya sendiri, akibat dari trauma masa lalu yang belum bisa ia lupakan. Nullah sendiri dipisahkan secara paksa karena anak campuran tidak memiliki status hukum. Pada akhirnya, film ini  menggambarkan bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya, termasuk rasa takut akan kehilangan seseorang yang akan kita cintai dan rasa takut tersakiti oleh cinta itu sendiri.

Pertama saya pengen nonton film ini, apalagi kalau bukan karena Hugh Jackman yang seksi nian itu. Apalagi kali ini ia bermain dalam arahan Baz Luhrmann (Moulin Rouge, Romeo + Juliet). Tapi, kemudian, banyak yang membuat saya suka sama film ini.

Pertama, karena ada unsur kejutan. Mulanya saya baca resensi film ini hanya bercerita mengenai kisah cinta epik jaman perang dunia antara Sarah dan The Drover. Tidak ada yang menyebut Nullah sama sekali. Padahal, Nullah menjadi peran yang cukup penting di film ini. Kemudian, unsur uniknya adalah nama The Drover sampai akhir cerita tetap tidak diketahui. Dia tetap dipanggil Drover, bahkan oleh orang-orang terdekatnya. Saya juga suka konflik dan adegan romantisnya pas. Ada kalanya kita tegang banget (terutama saat Neil dengan kejamnya sengaja menciptakan kerusuhan agar perjalanan mereka menelan koraban) dan ada kalanya kita merasa terhanyut oleh romansa cinta yang diperankan secara apik oleh Hugh Jackman dan Nicole Kidman (esp. adegan ciuman sambil hujan-hujanan). Chemistry nya juga bagus dan natural, sama sekali tidak berlebihan. Satu lagi, happy ending! Saya nyangkanya Baz Luhrmann yang hobi dengan sad ending ini akan mengakhiri Australia dengan meyedihkan dan melibatkan kematian tokohnya, seperti pada film-filmnya yang terdahulu. Nyatanya, tidak. Film ini lebih menekankan pada keberanian dan kekuatan cinta, bukan kematian tragis salah seorang tokohnya (atau dua-duanya seperti di Romeo + Juliet). Lagian, saya juga nggak rela kalo akhirnya Hugh Jackman mati atau menderita. Nggak tega lihatnya. :) Setting Australia juga bagus banget. Dari yang awalnya cuma gurun jelek di musim panas, jadi taman yang indah banget di musim hujan. Uniknya lagi, kabarnya film ini semua aktor dan aktrisnya berasal dari Australia. Mungkin agar lebih bagus juga filmnya. Apa adanya Australia.

Lalu apa yang membuat film ini flop di pasaran, padahal jalinan ceritanya menawan dan menawarkan eksotisme Australia sebagai setting? Menurut saya, trade off dari berbagai sisi positifnya. Mungkin kehadiran Nullah dirasa surprise, tapi saya jadi bingung, emang sepenting itukah tokoh anak campuran ini? Apa nggak bisa cuma fokus di Nicole Kidman sama Hugh Jackman-nya aja? Malah terlihatnya, peran Nullah yang dominan. Kemudian, jalinan cerita yang bagus dan balanced itu membuat filmnya jadi panjang dan lama. Hampir tiga jam. Kalo nggak bener-bener suka mungkin udah dimatiin duluan tuh DVD. Dan konfliknya itu, naik turun kayak ngga ada habisnya. Saat kita kira semua happy end dan film udah selese, ternyata malah masih berlanjut, menawarkan konflik lain lagi. Seperti saat adegan ciuman di bawah hujan itu. Saya kira that’s the happy end and they live happily ever after. Eh, ternyata masih ada kelanjutan hubungan mereka setelah hidup bersama. Batal deh senyum bahagia, siap-siap tegang konfliks lagi.

Overall, 4 out of 5 kali ya. Mengingat eksotisme Australia, fantastisnya budget, akting Hugh Jackman dan Nicole Kidman, serta konflik yang natural. saya rekomendasikan buat orang-orang yang takut jatuh terlalu dalam saat jatuh cinta. Let love eads your way, mungkin itu yang penting. dan yang pengen lihat David Wenham jadi orang yang beda banget setelah jadi anak berbakti di The Lord of The Ring, rabbi yang culun di Van Helsing, dan pejuang tangguh di 300. Di sini, si ganteng ini berperan jadi orang yang totally licik, jahat, dan menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan pribadi. Worth to watch, guys!

Subscribe to RSS Feed Rss