Well, well, well. It’s been a year. What can I say? Or should I say: what is my excuse to disappear? My answer would be: the stress. The depression. I was so frustated last year that I could not even think to write review about movies. The thing I used to love. The thing that used to be so easy for me.
Pelajaran yang saya ambil adalah pilihan. Hidup adalah pilihan. Gampang ngomongnya. Tapi, apa konsekuensinya? Bahwa, hidup ini penuh dengan pilihan yang kompleks dan satu pilihan kecil bisa membuat kita terjebak pada keadaan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Atau, sebaliknya. Pilihan kecil yang kita buat bisa mengubah hidup kita ke arah yang lebih baik. But the most important thing is: Who knows? Tidak ada yang tahu ke mana hidup kita akan berjalan dan bagaimana perjalanannya. Menurut kita sih, pilihan yang kita buat sudah yang paling bagus. Siapa sangka kita salah? Dan siapa sangka keputusan yang kita kira bego dan tidak sesuai dengan diri kita malah sedikit lebih baik? Again, who knows? But the key is: you have to be selective. Semua pilihan itu, pertimbangkan dengan baik. Karena, pada akhirnya toh kita yang akan menjalani pilihan itu. We have the right to be selective. So, setiap mau ambil keputusan: think twice. Think three times. Ask your parents about their opinion. And finally, ask yourself. Do you really want it? Do you? Or you just want it because the best is yet to come and you’re simply not patient enough to wait for it?
Kembali lagi, semua ada di tangan kita. Pilihan apapun. Kita ambil dengan keberanian penuh tanpa tahu ujungnya. Because, life is supposed to be a surprise, isn’t it? Asal kita mau menjalani konsekuensinya. Jangan mengeluh jika pilihan kita salah. Bersyukurlah bahwa kita sadar kita salah, sehingga kita punya kesempatan untuk memperbaikinya.
Untuk saya, saya merasa setahun terakhir ini saya telah menyia-nyiakan hidup saya. Saya tidak berjalan ke mana-mana, stuck di tempat, sementara waktu yang begitu berharga terus berjalan begitu saja. Satu tahun yang harusnya bisa saya pakai belajar, saya pakai untuk meniti karier, menambah pengalaman sebelum pada akhirnya mengambil gelar Master, malah terbuang dengan sia-sia. Time passes me by. What have I done?
Untungnya, instead of being too comfortable in my comfort zone, saya sadar. Orang tua pun mengingatkan saya, bahwa satu tahun itu tidak akan kembali. Nggak perlu ditangisi. It’s just time to move forward. Jadi saya mulai lagi semuanya dari awal. Dan menurut saya, jika saya ingin membangun sesuatu yang baru dengan lebih rapi dan tanpa cela, maka hancurkanlah dulu yang lama. Baru, saya tata lagi dari awal. Perencanaanya, desainnya, hingga pembangunannya.
Now, I’m settled. Semoga kali ini saya benar, bahwa ini akan jadi yang terakhir. Bahwa, kesempatan untuk belajar itu adalah yang paling penting. Bahwa, untuk belajar itu adalah saya harus kerja dobel, harus kerja lebih lama, lebih intens, dan yang paling penting kehabisan waktu sampai nggak sempat mikirin diri sendiri.
Our life is like an enormous decision-tree with unexpected consequences. So, be brave. Embrace yourself and live your life to the fullest. Do not regret the thing that you did. Regret the thing that you never did.
Inti dari cerita ini adalah dua quote dari dua orang yang sangat saya hargai sekarang.
“Why are you working, spending so many times on it, if it’s not fun? If that is so, you are miserable. Have fun!” (SDP)
“If you think your company’s value is not the same with yours and you can’t work for them, quit. Don’t wait too long. Just quit.” (AC)