1 Year: Truly A Journey

Posted: 1st December 2011 by bubble_gunz in Ma Pensée (My Thought), Ma Vie (My Life)

Well, well, well. It’s been a year. What can I say? Or should I say: what is my excuse to disappear? My answer would be: the stress. The depression. I was so frustated last year that I could not even think to write review about movies. The thing I used to love. The thing that used to be so easy for me.

Pelajaran yang saya ambil adalah pilihan. Hidup adalah pilihan. Gampang ngomongnya. Tapi, apa konsekuensinya? Bahwa, hidup ini penuh dengan pilihan yang kompleks dan satu pilihan kecil bisa membuat kita terjebak pada keadaan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Atau, sebaliknya. Pilihan kecil yang kita buat bisa mengubah hidup kita ke arah yang lebih baik. But the most important thing is: Who knows? Tidak ada yang tahu ke mana hidup kita akan berjalan dan bagaimana perjalanannya. Menurut kita sih, pilihan yang kita buat sudah yang paling bagus. Siapa sangka kita salah? Dan siapa sangka keputusan yang kita kira bego dan tidak sesuai dengan diri kita malah sedikit lebih baik? Again, who knows? But the key is: you have to be selective. Semua pilihan itu, pertimbangkan dengan baik. Karena, pada akhirnya toh kita yang akan menjalani pilihan itu. We have the right to be selective. So, setiap mau ambil keputusan: think twice. Think three times. Ask your parents about their opinion. And finally, ask yourself. Do you really want it? Do you? Or you just want it because the best is yet to come and you’re simply not patient enough to wait for it?

Kembali lagi, semua ada di tangan kita. Pilihan apapun. Kita ambil dengan keberanian penuh tanpa tahu ujungnya. Because, life is supposed to be a surprise, isn’t it? Asal kita mau menjalani konsekuensinya. Jangan mengeluh jika pilihan kita salah. Bersyukurlah bahwa kita sadar kita salah, sehingga kita punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Untuk saya, saya merasa setahun terakhir ini saya telah menyia-nyiakan hidup saya. Saya tidak berjalan ke mana-mana, stuck di tempat, sementara waktu yang begitu berharga terus berjalan begitu saja. Satu tahun yang harusnya bisa saya pakai belajar, saya pakai untuk meniti karier, menambah pengalaman sebelum pada akhirnya mengambil gelar Master, malah terbuang dengan sia-sia. Time passes me by. What have I done?

Untungnya, instead of being too comfortable in my comfort zone, saya sadar. Orang tua pun mengingatkan saya, bahwa satu tahun itu tidak akan kembali. Nggak perlu ditangisi. It’s just time to move forward. Jadi saya mulai lagi semuanya dari awal. Dan menurut saya, jika saya ingin membangun sesuatu yang baru dengan lebih rapi dan tanpa cela, maka hancurkanlah dulu yang lama. Baru, saya tata lagi dari awal. Perencanaanya, desainnya, hingga pembangunannya.

Now, I’m settled. Semoga kali ini saya benar, bahwa ini akan jadi yang terakhir. Bahwa, kesempatan untuk belajar itu adalah yang paling penting. Bahwa, untuk belajar itu adalah saya harus kerja dobel, harus kerja lebih lama, lebih intens, dan yang paling penting kehabisan waktu sampai nggak sempat mikirin diri sendiri.

Our life is like an enormous decision-tree with unexpected consequences. So, be brave. Embrace yourself and live your life to the fullest. Do not regret the thing that you did. Regret the thing that you never did.

Inti dari cerita ini adalah dua quote dari dua orang yang sangat saya hargai sekarang.

“Why are you working, spending so many times on it, if it’s not fun? If that is so, you are miserable. Have fun!” (SDP)

“If you think your company’s value is not the same with yours and you can’t work for them, quit. Don’t wait too long. Just quit.” (AC)

INCEPTION -Private Review-

Posted: 2nd August 2010 by bubble_gunz in Uncategorized

Sudah lama sekali ingin nulis review Inception yang menghebohkan banyak orang sampai masuk jajaran film terbaik sepanjang masa versi IMDb. Tetapi, mungkin karena keenakan lagi di Malang, saya jadi sok-sok lupa mulu. Padahal, tumben-tumbenan di Malang film kayak Inception cepet tayang. Saya sih nggak buang waktu lagi, langsung ngajak best mate (baca: Laras) untuk nemenin saya nonton bang Leo DiCaprio. Tapi, sebenernya cita-cita kami kandas sih. Bukannya terpesona liat Leo, kami malah ngiler-ngiler liat aktor pendukung lain yang lebih ganteng dari Leo (versi Laras: Joseph Gordon-Levitt dan Tom Hardy, versi saya: Ken Watanabe). Dasar ababil emang…

‘Kay, here is the review.

Inception is sci-fi movie, told us about a time when someoe could steal your secret by entering your dream. Because, your weakest shape was when you sleep, when your subconcious mind took away the real you. By using the dream share machine, an extractor would steal away your deepest secret.

Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) was the greatest dream extractor in the world at that time. Helped by his partner, Arthur (Joseph Gordon-Levitt), he went around the world, became the most reliable dream extractor, but in the same time,  a top international fugitive. Until he met Saito (Ken Watanabe) who promised him a freedom, a way back to his children. But, Dom had to do the alomost-impossible job, an opposite of his usual job. Instead of infiltrating one’s mind and extract his secret, Saito asked him to do inception of a specific idea. The target was Fischer (Cillian Murphy). And the idea to be incepted was to destroy Fischer’s Corporation. In the beginning, Arthur was sceptic about this job, but with his experience and related to his horrible past, Dom believed this job could be done (SPOILER ALERT!!!). So, he began to recruit his team, Ariadne (Ellen Page) as dream architect, Arthur and Mr. Eames (Tom Hardy),  Yusuf (Dileep Rao) as alchemyst, and Saito as the supervisor to make sure the job would be done well. But, this job would not be that easy, as the target’s subconscious mind has been trained to fight Dom’s team infiltration to his dream and also the shadow from Dom’s past who desperately wanted Dom to stay in the dream for eternity. She would do everything to fail this mission. How would Dom and his team react?

Superb! That would be my view to this movie. Once again Nolan amazed me with his vision, imagination, and expression to this movie. It is not as complicated as The Prestige where we had to pay heavy attention to the timeline. The concept of Inception is simpler and more understandable. As long as you understand the concept of a dream within a dream, I think you could understand this movie easily. However, this movie is serious, it is not light movie like another summer movie.

The good side of this movie is the portion of drama, action, and thriller are well-balanced. We would be invited to understand the history of Dom, which is really sad actually, but also explore the world of a dream that is full of action and unexpected things. This is supported by the special effect of this movie (the fight in Hotel’s corridor scene was really spinning!) and amazing actor. Leo DiCaprio has really turned into master of acting with his totality of acting in this movie. Ken Watanabe also really charismatic. Two thumbs up for the supporting actors of Inception.

The way of Nolan tell us about this movie is also original, and so-Nolan, ending with a twist that make us still thinking about it even after the movie has long finished. Nolan also reminds us that letting go is not easy. People tend to hold on to the past, even the past is horrible and has long gone. Subtly, Nolan said that in order to get on with your life you have to stop blaming yourself and let go of the past. The question is: could you?

This movie make me myself question the bound of dream and reality. The dream feels so real when we are in it, doesn’t it? So, how could we separate the dream and reality (the answer in this movie is by using a totem)? Because of our feeling that the dream is real, sometimes we let the dea we get from that dream get us and infiltrate us. The idea could grow into unexpected acts in our real world. I experienced it myself, but not in the way of Mal (Marion Cotillard) in doing suicidal (SPOILER ALERT!!!) or Fischer in destroying his father’s business. I just realize enough that dream is dangerous thing, because of this movie.

Well, overall 4.5/5 for the original idea of this movie, the plot, the actors, and also the special effect. Well done, Nolan. Another blowing-mind job!

P.S (SPOILER ALERT!!!) : I still do not understand the ending scene when Dom found Saito and asked him to go back to reality. Saito took the gun, and suddenly Dom woke up, found himself in the airplane (but in the end we found that Dom still trapped in the world of dream). How could Dom suddenly woke up and enter another world of dream? Maybe someone could explain to me. Anyone?

Belanda dan American Football

Posted: 12th July 2010 by bubble_gunz in Ma Pensée (My Thought)

Well, akhirnya World Cup 2010 selesai juga. Selesai jugalah penderitaan saya denger teriakan-teriakan nggak penting di pagi buta. Anyway, saya tidak akan mengomentari apapun tentang kekalahan Belanda ataupun kemenangan Spanyol, bahkan tentang gurita Paul yang minta dibakar jadi takoyaki. Sebab, kesemua hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada hidup saya. Yang mau saya komen di sini adalah pertandingan final World Cup, kesukaan saya pada sepak bola (dulu), hingga akhirnya saya menemukan olah raga lain yang lebih asyik ditonton, American Football.

Saya dulu suka sekali bola. Sampe agak berlebihan kalo dipikir-pikir. :( Yang harus begadang tiap Manchester United main, yang beli semua koleksi VCD Manchester United, yang ngapalin semua pemain MU, aduh… nggak banget deh. Kemudian setelah MU lanjut dengan Juventus karena saya jatuh cinta sama Alessandro Del Piero (sampai sekarang, by the way). Saya rajin nonton Serie A sampai Liga Champions. Beli semua majalah yang mengulas Del Piero. Yah, begitulah masa kecil sampe remaja saya habiskan. Lalu, entah kenapa setelah umur segini semua berubah. Saya tidak lagi suka sepak bola. Bahkan, menurut saya itu adalah permainan kekanakan yang mengharuskan 22 orang memperebutkan bola. Okelah, itu biasa, banyak permainan lain yang juga  merebutkan bola. Tapi, yang paling saya tidak suka adalah: semua pemainnya cengeng. Seriously! Liat aja kalo habis di-tackle, ya ampun, kayak anak kecil lagi nangis gulung-gulung gara-gara nggak dibeliin mainan. Tapi, begitu wasit ngasih kartu ke penjegalnya, dia langsung bangkit, entah bagaimana sehat walafiat untuk mengambil free-kick. For the love of God, sakitnya yang tadi ke mana, Bang? Cuma buat lebay doang?

Di masa inilah saya rajin nonton ESPN dan kebetulan sedang musim NCAA, yaitu liga untuk para mahasiswa di Amerika. Liga-nya sendiri macem-macem, ada NCAA Basketball, NCAA Baseball, dan salah satunya NCAA Football. Dan sejak itulah saya jatuh cinta. Ini daftar alasan kenapa saya beralih ke American Football:

1. Mainnya fair. Waktunya offense ya offense. Waktunya defense ya defense. Nggak ada tuh gantian nyerang kayak di sepak bola.

2. Nggak berebutan bola. Mereka main untuk menghadang lawan, 1 lawan 1. Jatuhkan atau dijatuhkan. Kalau semua defense berhasil menjatuhkan semua offense, berarti offense nggak bisa maju. Team work yang harus bisa mempercayai rekan se-tim sangat diandalkan di sini.

3. Nggak ada yang cengeng. Di-tackle atau di-sack terus jatuh, ya berdiri lagi. Nggak ada tuh gulung-gulung minta dikasihani sama wasit.

4. Saya suka aja komentatornya bilang: “He’s at the fifteen, ten, five, touchdooooowwwnnnn…!!!”

5. Inch by inch, sampe touchdown bener-bener menggambarkan bahwa untuk sukses itu harus one step at time. Langkah demi langkahnya memang berat (harus menghadapi tackle dan sack dari lawan), tapi begitu sampai finish line (dalam hal ini touchdown), pasti akan terasa indah…

6. Pemainnya NCAA brondong ganteeeenggg… Labil deh tiap liat quarterback yang imut-imut tapi lemparannya ke receiver pada jitu. :) Pemain favorit saya sih Colt McCoy dari University of Texas dan Tim Tebow dari University of Florida (dua-duanya udah lulus sekarang, udah nggak di NCAA lagi).

7. Kostumnya keren, pake pelindung sampe keliatan gede-gede gitu.

8. Film-film tentang American Football jauh lebih menyentuh dari olahraga lainnya. Coba saja tonton Facing The Giants (2006), Remember The Titans (2000), The Blind Side (2009), sampai Brian’s Song (2001). Khusus Brian’s Song, film ini berhasil bikin saya nangis bombay melihat perjuangan seorang pemain football menghadapi kanker yang menggerogoti organ dalam tubuhnya, satu per satu. Based on true story, by the way.

Kenapa saya bandingkan Belanda dengan American Football? Karena, melihat pertandingan final, saya jatuh cinta sama Belanda. Asik banget mainnya. Tackle sana, tackle sini, sampe akhirnya De Jong nendang dada seorang pemain Spanyol. Salut deh. Mainnya sangat mengingatkan saya pada permainan American Football yang kasar tapi seru buat ditonton. Mungkin Spanyol-nya aja yang cengeng, jadinya malah Belanda yang banyak di-kartu kuning. PAdahal, kalo mau jujur, Spanyol sendiri juga nggak kalah kasar. Lihat saja tackle pada Dirk Kuyt dan Arjen Robben, murni pelanggaran. Dasar wasitnya aja yang berpihak, kalo Spanyol yang tackle nggak dikasih kartu. Eh, maaf, janjinya kan nggak akan ngebahas siapa yang menang dan yang kalah. :p

Jadi, inilah kesimpulan saya. Saya cinta American Football dan saya cinta Belanda yang di partai final mainnya mirip-mirip American Football. Saya tahu tulisan saya ini akan menimbulkan banyak protes bagi pecinta sepakbola, apalagi tim Spanyol. Saya ingatkan saja bahwa ini hanya pengamatan pribadi. Terserah ada yang setuju atau tidak. I’m just writing my thought.

P.S: sebenarnya yang bisa diambil dari kesukaan saya terhadap NCAA football adalah bagaimana liganya para mahasiswa di Amrik sana bisa sangat terorganisir untuk semua cabang olahraga. Dan atlet di sana benar-benar dihargai, sampai ada beasiswa khusus atlet segala, karena atlet bisa mengharumkan nama sekolah di level nasional lewat olahraga yang sistemnya ditangani serius. Dengan sistem ini, bukan cuma universitas dan atlet diuntungkan, tapi juga Amerika sendiri, karena regenerasinya dan pelatihan dini untuk atlet jadi lebih bagus. Nggak kayak di Indonesia yang penanganan atlet dan kompetisinya asal-asalan. Jadinya gini deh. Nggak ada bangga-bangganya sama sekali pas olimpiade. :( (

Well, well, well. Akhirnya saya update lagi ini blog. Bukannya kenapa, cuma belakangan ini saya pulang ke Malang dan seperti yang pernah saya ceritakan, film di Malang sangaaattt lemot. Jadi, tidak ada yang bisa di-update. :) -nice reason- Ini pun saya maksa balik ke Jakarta dengan berbagai alasan, padahal alasan intinya adalah puengeeenn nonton Jacob dan Carlisle di Eclipse.

Eclipse merupakan sekuel langsung dari New Moon. Di akhir film New Moon terlihat Edward (Robert Pattinson) sedang melamar Bella (Kristen Stewart) sebagai syarat agar Edward bersedia mengubah Bella menjadi vampire. Pada film Eclipse diceritakan bahwa Edward serius dengan lamaran itu dan Bella awalnya bersikukuh menolak karena menikah muda sudah tidak lagi umum dilakukan sekarang. Bella pun mulai merasa bimbang dengan kehadiran Jacob (Taylor Lautner) yang menolak untuk menjadi sahabat biasa dan ingin memperjuangkan Bella dengan caranya sendiri, yang pada akhirnya malah melukai mereka berdua. Selain drama itu, Bella juga harus menghadapi Victoria (Bryce Dallas Howard) yang belum juga menuntaskan dendamnya atas kematian James (diceritakan pada seri Twilight). Kali ini Victoria mencoba membalas dendam dengan bantuan tentara Newborn dipimpin oleh Riley (Xavier Samuel). Hal ini mengharuskan wolf pack dan Cullen Clan menyatukan kekuatan. Selain itu, di seri ini ada beberapa sisi menarik yaitu diceritakannya latar belakang Rosalie (Nikki Reed) dan Jasper (Jackson Rathbone) hingga harus menjadi vampire.

Sebenarnya, awal film sangat bagus dengan menunjukkan adegan Riley diserang Victoria dengan penuh teror. Sayang sekali, tempo ini tidak bertahan di adegan selanjutnya. Too much drama. Dari Edward dan Bella yang setiap kali ketemu selalu ciuman (oh, please. Like the two prior films weren’t enough of kissing scene), sampai adegan Emmet (Kellan Lutz) yang hampir ribut dengan Paul (Alex Meraz) karena melanggar garis batas yang kurang menegangkan. Saya lebih suka kalau diceritakan mereka benar-benar adu fisik. Pasti akan lebih menegangkan dan menyeimbangkan porsi dramanya Bella dan Edward. Dan to be honest, saya lebih suka adegan kissing-nya bella dan Jacob, entah kenapa kissing-nya terlihat lebih tulus. Mungkin karena sudah terlalu sering melihat Edward dan Bella kissing, jadi dengan Jacob terlihat lebih menggugah.

Di film ini saya lebih banyak tertawa dibandingkan tersentuh, entah kenapa. Padahal seperti saya ceritakan pada post sebelumnya, saat nonton New Moon saya nangis dari awal sampai akhir. Mungkin disebabkan oleh adegan rebutan Bella oleh Edward dan Jacob kadang sangat konyol dan childish (dalam arti yang baik), terutama saat Bella kedinginan pada badai salju dan Jacob yang menghangatkan. Kocak. :p

Dari segi film secara keseluruhan okelah, saya suka. Pengembangan dari film New Moon dengan mengeksplor hubungan cinta segitiga Edward-Bella-Jacob, penceritaan karakter Rosalie dan Jasper, juga cerita pengkhianatan Volturi. Tetapi, saya rasa porsi aksi dan dramanya kurang seimbang. Akan lebih baik jika aksi lebih banyak sedikiiiittt lagi, jadi saya tidak bosan melihat pasangan Edward-Bella bermesraan yang pasti akan diakhiri dengan ciuman. Kasian tuh Jacob-nya. *menghela nafas prihatin*

Adegan yang paling saya suka adalah saat Bella menemui Jacob yang terluka parah dan mengucapkan quote ini:

Bella Swan: Should I come back?
Jacob Black: I need some time, but I’ll always be waiting.
Bella Swan: Until my heart stops beating.
Jacob Black: Maybe even then.

Oh, God… *crycrycry*

Overall, 3 out of 5. Good for entertainment (esp. the half-naked wolf pack, ooohhhh), but do not expect more. Semoga film keempatnya akan lebih baik walaupun agak mustahil mengingat di buku keempat sangat minim aksi, dan semakin banyak drama. :(

Bright Star

Posted: 12th June 2010 by bubble_gunz in Les Films et Plus (Movies and More...)

Has any of  you heard about a movie titled Bright Star? Actually, I had not known this film until I saw the trailer while waiting for the main movie that time (it was The Ghost Writer, by the way. The review could be read at previous post).  So, I found myself was highly attracted by the trailer. It was awesome and ended with this beautiful quote:

“I almost wish we were butterflies and liv’d but three summer days – three such days with you I could fill with more delight than fifty common years could ever contain.”

*cry* I did really want to watch this movies (well, it suited me well, romantic movie that ended in tragedy), but again, I think it is not released in Indonesian. So, I bought the DVD and watched it myself.

Bright Star told us a true love story between John Keats (Ben Whishaw) and Fanny Brawne (Abbie Cornish) in England, 1818. Fanny Brawne was a beautiful and popular woman. Many men attracted to her but she had not fell in love for once in her life, until he met John Keats. John was a poor poet and could not make a living who lived next door to Fanny. His book of poems did not sell well at that time. But again, love proved itself blind and bind these two into their first and maybe last love. Fanny and John began to see each other, even John gave her his mother’s ring to prove his love and guarantee that someday he would propose to her.

Fanny’s sister and brother, Toots (Edie Martin) and Samuel (Thomas Sangster) liked John as well as their mother (Kerry Fox). However, the need of money was still an issue here, so the relationship between John and Fanny was still difficult. Until one day, John went out to the rain without a coat and came home so sick that he coughed blood. At that time, people have not been familiar with TBC, they still called it ‘consumption’. There was no medicine for this kind of disease and John’s friends could only come up with idea that John had to go abroad where the climate was better, Italy.

Fanny and John said goodbye but John convinced her that he would return and marry her. The fact is, John never return from Italy. He died in Rome at age 25, believing that he was a failure. He could not keep his promise to Fanny to marry her and leaving her so destroyed.

For me, the movie is beautiful, with such a silence that made me re-think their feeling to each other. There was a good connection between Ben Whishaw and Abbie Cornish as a couple. It really did explain its tagline: “First Love Burns Brightest.” I also think that this movie could touch my heart as I cried like a baby while watching. But, well, life is so unfair almost all the time. So was life for Fanny Brawne and John Keats. The poem also well-quoted in the movie. The timing was good and made us more attached to the movie.

However, I am not familiar with old British, what’s with the “thou” and “thy” things. So, at some parts, I do not understand the dialogue as well as the poem. *sigh* Also, the dialogue was full of metaphor and not so-to-the-point. I hardly understand it, eventhough I know the main plot of the movie.

Well, 3.5 out of 5 for this movie. Good watch for you guys, that have a thing for sad ending movie like I do. :)

For people in Jakarta: you could find this DVD in DVD store at Kemang Food Fest. Not original though, but the picture and the sound is perfect.

P.S: Fanny actually got married and never told her husband about John Keats. She only told her children about John Keats and showed them all of John’s letter and poems for her. After Fanny died, her children published John’s letters and poets. John Keats now recognized as one of greatest poet for romantic genre.

The Ghostwriter

Posted: 28th April 2010 by bubble_gunz in Les Films et Plus (Movies and More...)
Tags:

Seminggu yang lalu saya nonton film ini. Saya pikir masih belum (terlalu) basi, jadi sekalian deh saya review.

The Ghostwriter bercerita tentang seorang penulis biografi bayangan, The Ghost (Ewan McGregor) yang diminta untuk menggantikan pekerjaan penulis bayangan sebelumnya yang tewas secara misterius. The Ghost harus bekerja dalam waktu seminggu untuk menyusun biografi Adam Lang (Pierce Brosnan), Perdana Menteri yang sedan menghadapi fitnah yang kontroversial berkaitan dengan keterlibatannya dalam Perang Irak. Dalam pekerjaannya, pada akhirnya The Ghost dihadapkan pada situasi yang membingungkan. Ia tidak yakin bagaimana karakter asli Adam Lang, ia juga mulai digoyahkan oleh fitnah kontroversial tersebut, ia juga menghadapi affair dengan istri Adam, Ruth Lang (Olivia Williams), dan menemukan fakta yang mungkin dapat menjadi penyebab kematiannya.

Film ini merupakan tipikal film thriller yang mengharuskan penonton dengan sabar mengikuti cerita dan menyusun kepingan puzzle sendiri hingga ditutup dengan ending yang cukup surprising dan menjelaskan segalanya. Bagi saya, film ini cukup bagus. Thriller dengan sedikit komedi satir di sana-sini, yang bisa menambah elemen hiburan. Sebagai The Ghost, akting Ewan McGregor sendiri sangat krusial, karena bisa dibilang ia merupakan peran vital yang menentukan baik buruknya film ini. Dan menurut saya, aktingnya lumayan oke, seorang penulis yang awalnya lugu dan terdampar dalam situasi politik yang sarat intrik, dan akhirnya bingung sendiri. Ia menggambarkan situasi pelik yang dihadapinya dengan cukup baik. Saya bisa merasakan setiap kebingungan dan ketegangannya. Well done untuk Ewan McGregor. Sebagai figuran yang juga tidak kalah penting, Pierce Brosnan juga cukup menggambarkan karakter politisi yang cukup kompleks. Ia bisa tertawa pada suatu waktu, bisa juga marah luar biasa pada waktu yang lain. Namun, yang paling penting, perannya di sepanjang film tidak mengaburkan endingnya, bahwa ia bukanlah tokoh antagonis yang sebenarnya (WOOT! WOOT! SPOILER ALERT!).

Bagaimanapun, saya masih merasa alurnya kurang cepat (padahal, Fauzi di sebelah saya selalu bilang:”Ah, bingung, bingung. Alurnya terlalu cepet!”). Bahkan, mungkin untuk orang yang bukan penikmat film jenis ini sudah ngantuk duluan karena dari awal memang agak kurang jelas juntrungannya. Tapi, begitu sampai ke tengah film (terutama sejak The Ghost dikejar-kejar orang tak dikenal), tempo mulai meningkat dan akhirnya cukup seru untuk dinikmati. Karakter Ruth Lang sendiri juga menurut saya kurang “jahat”, apalagi jika meninjau ending-nya. Seharusnya, ia bisa lebih meyakinkan daripada itu.

Secara keseluruhan 3.5 out of 5 deh. Bagus, menegangkan, dengan ending yang sedikit twist (tapi, kenapa Ewan McGregor jadi mati yak? Kesel). Mungkin, penilaian saya bisa berbeda dengan orang yang sudah baca novelnya, karena bagaimanapun, penceritaan di novel akan lebih detail dan mungkin juga pembaca menilai filmnya tidak sebagus novelnya sehingga penilaian mereka bisa lebih rendah (novel aslinya berjudul The Ghost by Robert Harris, by the way).  Lumayan buat ditonton di tengah paceklik film bulan ini sambil menunggu Iron Man dan Robin Hood, menurut saya.

P.S: Sedikit komentar saya ketika melihat film ini, di sini disebut Adam Lang ingin melarikan diri ke negara yang tidak menghormati persetujuan internasional Den Haag (saya kurang ngerti jelasnya, sepertinya berhubungan dengan perjanjian tentang kejahatan perang). Ketika Adam Lang bertanya pada pengacaranya negara mana saja yang tidak menghormati perjanjian internasional tersebut, ia menyebut beberapa negara, dan salah satunya Indonesia. Haha. Humor satir yang menyindir saya. Saya hidup di negara yang tidak menghormati perjanjian internasional. Ini bikin bangga atau miris sih? Saya nggak ngerti deh.

The End of The Affair

Posted: 26th April 2010 by bubble_gunz in Les Films et Plus (Movies and More...)
Tags:

Ini adalah salah satu film yang saya tonton sambil mengerjakan revisi (that explains why my revision is going really slow, doesn’t it?). Saya pertama beli DVD-nya sama sekali nggak ngeh ini film apaan, saya beli simply karena Ralph Fiennes aktor utamanya. So, here goes the plot and review.

Film dimulai dengan pertemuan antara Maurice Bendrix (Ralph Fiennes) dan teman lamanya, Henry Miles (Stephen Rea). Henry menyatakan secara implisit bahwa istrinya, Sarah Miles (Julianne Moore), kemungkinan memiliki lelaki simpanan. Henry ragu untuk menyelidikinya, namun Maurice amat antusias bahkan menawarkan diri untuk menyamar dan menemui detektif tersebut. Dari sini, terkuaklah sebuah kisah terlarang yang pernah terjadi antara Maurice dan Sarah.

Maurice adalah seorang novelis. Sebelum perang dunia II dimulai, ia berencana akan segera menulis novel baru tentang kehidupan elit politik di Inggris dan untuk itu ia mengadakan sedikit research mengenai kehidupan riil elit politik. Ia segera menyempatkan diri untuk bertemu dengan Henry di sebuah pesta. Di pesta inilah, ia bertemu dengan Sarah. Melalui satu pertemuan singkat, mereka jatuh cinta dan memulai cinta terlarang di belakang Henry berlatar belakang Perang Dunia II. Sarah dengan jelas menyatakan bahwa ia sangat mencintai Maurice, lebih dari siapapun. Namun, Maurice sendiri sangat pencemburu. Ia diam-diam tidak percaya pada Sarah. Ia beranggapan bahwa suatu hari Sarah pasti akan mengakhiri hubungan itu. Bagaimanapun, mereka sama sekali tidak merasakan kesedihan saat berlangsungnya perang. Mereka sangat bahagia dalam waktu itu. Hingga, suatu hari ketika mereka sedang menghabiskan waktu bersama di apartemen Maurice, sebuah bom meledak (sekedar mengingatkan, wajar ada bom karena latar belakang film ini Perang Dunia II) dan Maurice terluka dan tidak sadarkan diri. Ketika bangun, ia menemukan dirinya pada situasi yang berbeda. Sarah tampak berbeda dan tampak sangat ingin segera pergi dari apartemen Maurice. Maurice tidak mengerti apa yang terjadi selama ia tidak sadarkan diri. Yang ia tahu hanyalah, Sarah telah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

Maka, ketika Maurice bertemu Henry kembali, ia berusaha menguak, apa alasan Sarah meninggalkannya. Dengan naif, prasangka utamanya adalah Sarah sudah bosan padanya dan telah memiliki selingkuhan baru. Ia menyewa Parkis (Ian Hart) sebagai detektif untuk mengetahui siapa kekasih gelap baru dari Sarah. Yang terjadi kemudian adalah salah paham karena Maurice mengira Sarah berselingkuh dengan seorang pendeta, Richard Smythe (Jason Isaacs). Namun, alasan Sarah sendiri tidak sesederhana itu. Sebuah alasan kompleks, melibatkan Tuhan, dan sama sekali tidak seperti yang disangka oleh Maurice.

Apa alasannya? Mending ditonton sendiri, saya tidak mau memberi bocoran terlalu banyak di sini. Yang jelas, sangat menyesakkan dan sedikit tidak adil. Mengingatkan bahwa Tuhan selalu mengingat janji kita dan tidak jarang membuat kita membayar dengan harga mahal untuk menjaga kita tetap menepati janji tersebut.

Filmnya sendiri sad ending, jelas. Tapi, yang saya suka adalah alasan Sarah mengakhiri hubungannya dengan Maurice sama sekali tidak mengada-ada dan sangat surprising. Tidak tertebak. Akting Ralph Fiennes sendiri seperti biasa, sempurna. Ia memerankan bekas kekasih gelap yang penuh dendam dan sakit hati tetapi masih sangat mencintai Sarah dengan baik sekali. Dengan melihat akting Ralph Fiennes di sini saya jadi sadar, bahwa cinta itu selalu datang dengan dua temannya, cemburu dan kebencian. Cemburu pada semua hal lain yang bisa mengalihkan orang yang kita cintai dari cinta kita sendiri. Dan kemarahan pada apapun atau siapapun yang tidak mau kita bersatu. Bahkan, jika merujuk pada film ini, mungkin saja kita membenci Tuhan (yang mana tidak saya sarankan. Akhirnya, capek sendiri kok, seperti Maurice pada film ini.).

Satu lagi yang saya suka dari film ini, penggambaran alur maju mundurnya indah sekali. Seperti mau memperlihatkan pada kita perbedaan ketika Maurice dan Sarah masih kekasih, dan ketika mereka sudah putus. Dan akting Julianne Moore, benar-benar seperti wanita kesepian haus kasih sayang, walaupun pada akhirnya ia benar-benar setia pada Maurice.

Kekurangannya mungkin pada tidak diceritakannya kehidupan Maurice dan Sarah saat mereka berpisah selama dua tahun. Akan lebih menarik jika melihat mereka benar-benar merasa hampa tanpa satu sama lain selama dua tahun. Khusus untuk Sarah, sempat sih diceritakan sekilas. Tapi, untuk Maurice belum digambarkan. Padahal, pasti akan lebih menguatkan plot jika kita melihat bagaimana Maurice hidup selama dua tahun dipenuhi rasa marah dan cemburu.

Overall, saya sukaaaa…film ini. Satu lagi film sad ending yang bikin saya nangis termehek-mehek tengah malem. Saya rekomendasikan untuk semua orang yang pernah kehilangan cinta, pernah merasa cemburu, atau bahkan marah pada keadaan. Just so you know, semua terjadi pasti ada alasannya. Dan mungkin, alasannya benar-benar tidak seperti yang kita bayangkan. Well, 4 of 5 star for this movie untuk kekuatan akting Ralph Fiennes, alasan yang tidak terduga, dan sad ending yang menyayat.

P.S.: sedikit trivia, tiga aktor di sini akhirnya main untuk seri film Harry Potter. Ralph Fiennes sebagai Lord Voldemort (Oops, I mention his name. I think it should be You-Know-Who), Ian Hart sebagai Professor Quirrel (yang mana adalah cinta lama saya), dan Jason Isaacs sebagai Lucius Malfoy. Agak lucu sih, menurut saya. :)

Pleidoi

Posted: 25th April 2010 by bubble_gunz in Ma Vie (My Life)

Pertama-tama saya ucapkan maaf beribu maaf karena sudah luamaaa tidak nge-blog. Kenapa? Ini berhubungan dengan judul update ini. Pembelaan mengapa saya tidak nge-blog untuk berapa lama:

1. Skripsi mau selesai, yang artinya saya makin intens kencan sama pembimbing. Belum lagi ngurus sidang yang naudzubillah mbuletnya. Pertama ke Biro Pendidikan (sebanyak dua kali, by the way), lalu ke Jurusan, lalu ke Jurusan lagi (karena sebelumnya si Bapak pengurus sidang sedang makan siang), menunggu telepon dari Jurusan, kemudian ke Jurusan lagi, bertemu semua dosen penguji, lalu ke Jurusan lagi (heran deh, ni Jurusan ngeselin banget yak. Ngotot banget minta dikunjungi).

2. Setelah skripsi selesai, saya persiapan sidang dong. Sok-sok rajin belajar. Padahal, saya kebanyakan nggak belajar, cuma meratapi “anugerah” Tuhan berupa short term memory yang membuat saya lupa sebagian besar pelajaran yang telah lalu. Jadi begini perincian hari-hari sebelum saya sidang: pagi hari bangun jam delapan, merasa belum saatnya bangun, tidur lagi, bangun jam 12, makan, niat belajar, buka buku, 10 menit kemudian berpikir “Lho, kok susah amat? Perasaan dulu nggak sesusah ini deh.”, 10 menit kemudian menyerah, menelepon Fauzi mengajak kencan sampai malam, setelah pulang: Panik karena akhirnya seharian nggak belajar. Begitu terus setiap hari. *payah*

3. Sidang. Heran, namanya aja serem, kayak mau ada pembantaian seheboh apa. Ternyata, *teot* kebanyakan di dalam ruang sidang saya diam mendengarkan pembelaan pembimbing kalo dosen penguji lain mulai tanya yang aneh-aneh, melihat mereka mulai berdebat (dan saya bengong sendirian di depan layar presentasi), kemudian nyengir melihat mereka melemparkan komentar-komentar nggak penting dan akhirnya tertawa bersama. Intinya: tidak ada pembantaian untuk saya *Alhamdulillah*. Pembimbing saya super baik dengan membantu saya menjawab pertanyaan yang mulai “berbau” menjatuhkan sampai ketua dewan penguji berkata dengan bijak: “Udah deh, saya nggak tanya-tanya lagi. Pembimbingnya kelas kakap.” Dan saya dinyatakan lulus. Guninta Surplusya Sudiar S.E. Finally. *Sok-sok resmi padahal belum keluar ijazahnya*

4. Pasca sidang sepertinya pembimbing belum mau melepaskan saya. Sepertinya Beliau tidak rela saya meninggalkannya dan berhenti jadi mahasiswa bimbingannya. Maka, Beliau memberi saya revisi seabrek dan tugas untuk merangkumnya jadi paper. Ihiks. Gelar mahasiswa bangkotan yang masih ngampus pun belum copot dari saya.

5. Cari kerja. Ortu sepertinya udah bosen ngurus saya dan meminta saya secepatnya cari kerja. Ampun deh. Habis saya pulang pergi Sudirman-Depok. Untung ada Fauzi yang setia setiap saat kayak merek deodoran. :)

Demikian pembelaan saya. Sekarang, hal lain yang tidak kalah mendesak. Saya telah menemukan cita-cita saya. Makna hidup saya yang sebenarnya. Cahaya yang menerangi jalan saya menuju masa depan yang lebih cerah. Sesuatu yang selalu saya cari di setiap hari-hari yang saya jalani. *halah* Jadi, obsesi baru saya adalah mengkoleksi semua film Ralph Fiennes. Yay! Saya baru nyadar aja kalo dia sangat kharismatik dan bisa dikatakan aktor watak. Sepertinya, karakter seperti apapun telah berhasil dimainkan oleh Ralph Fiennes dengan apik. Sebagai lelaki yang sakit hati di The Reader, sebagai raja dunia sihir hitam dalam Harry Potter, sebagai lelaki yang begitu pendendam di The End of The Affair, sebagai kekasih gelap yang jatuh cinta setengah mati di The English Patient, bahkan sebagai dewa kematian di Clash of the Titans. Pokoknya, saya mau koleksi semuanya. Jangan ketinggalan Schindler’s List, In Bruges, The Constant Gardener, dan The Duchess. Semua akan saya review di sini dan saya bikinkan tag khusus.

Anyway, saya akan kembali rajin nge-post *janji*. Semoga revisi kali ini tidak begitu menyulitkan. Good day for you all!

Somebody for Someone

Posted: 25th February 2010 by bubble_gunz in Ma Pensée (My Thought)

Setiap orang pernah merasa takut. Banyak banget ketakutan yang kita hadapi di dunia ini. Dari ketakutan khas anak kecil seperti takut gelap, takut sendirian di kamar mandi, takut air saat pertama kali nyoba renang, atau bahkan takut sekolah. Hingga kita jadi dewasa dan ketakutan kita mulai lebih complicated. Nggak lagi cuma takut hal-hal yang melibatkan hantu atau apapun yang pernah kita takuti waktu masih kecil. Kita menjadi takut pada kenyataan, takut pada masa depan, atau yang paling gawat, takut gagal.

Dari waktu ke waktu, kita mencoba mengatasi ketakutan kita. Meyakinkan diri kita bahwa kita pasti bisa melakukannya, tanpa sadar bahwa kata-kata “pasti bisa” itu malah bikin kita makin sakit saat gagal. Kadang kita mencoba menyelesaikan semuanya sendirian, menghadapi ketakutan kita dengan gagah berani, walaupun dalam hati ragu setengah mati. Namun, kadang kita kabur dari ketakutan itu. Merasa nggak sanggup menghadapinya. Jika kita takut gagal, maka kita tidak akan mencoba sama sekali. Selesai,nyaman, nggak sakit sama sekali. Tapi, pernahkah kita berpikir bahwa ada kemungkinan bahwa  suatu hari nanti kita akan menyesal tidak pernah mencoba? Mungkin memang gagal, tapi setidaknya kita tahu dan nggak penasaran atau menyesal lagi.

Di saat takut seperti ini, sah-sah saja mencoba menghadapi semuanya sendirian. Tapi, ada juga baiknya kita mengakui bahwa kita butuh somebody. Seseorang yang bisa mendukung kita dan meyakinkan kita bahwa setiap langkah yang kita ambil mungkin akan bermakna di masa depan. Kita memang dilahirkan untuk ketakutan, sejak kecil. Lalu, kenapa tidak membiarkan seseorang yang memberanikan kita? Berbagilah ketakutan dengan seseorang, karena kemudian apabila seseorang itu benar sayang kalian, dia akan menguatkan kalian.

Kemudian, pada suatu saat, keadaan dibalik. Seseorang itu yang membutuhkan kita. Dia sedang mengalami ketakutan yang sama dengan kita. Di saat seperti ini lebih baik kita juga mendampinginya dalam menghadapi ketakutan itu, memastikan dia tidak kabur dari ketakutannya, dan nantinya akan ada untuk mereka saat mereka benar-benar gagal. Being supportive.

Kita dan somebody kita harus terus menerus saling mendukung. Saat satu takut, lainnya menggandeng tangannya dan meyakinkan, “You’re gonna make it work. You’re gonna walk on that path and make it to the goal line, whatever your goal is.” dan kemudian, di saat dia merasa lebih berani dan somebody-nya yang gantian merasa takut, dia akan bilang, “I walked the same path you’re walking now. Be strong. You’re gonna make it through this mess.”

Untuk saya, orang ini adalah Fauzi. Dia selalu menemani ketakutan saya. Setiap ketakutan saya. Dia ada saat saya kacau banget dan takut menatap masa depan. Dia ada saat saya takut gagal. Dia selalu ada untuk bilang, “Everything is gonna be fine.” Dan dia selalu meyakinkan saya untuk mencoba. It’s not the matter about success and failure. It’s about trying and trying harder. Dia selalu bersabar saat saya sedang ngaco membicarakan kegagalan yang bahkan belum terjadi karena saya belum nyoba. Dia juga yang bisa bikin saya ngerti, bahwa hakikat dari hidup ini adalah do the best dalam setiap hal, agar nantinya tidak menyesal. Saat kita mencoba melakukan yang terbaik saat berjuang menggapai impian kita kemudian gagal, rasanya penyesalan yang kita rasakan tidak sebesar ketika kita tidak melakukan yang terbaik, atau bahkan tidak mencoba sama sekali. Dan lagi, bukankah semakin sering kita jatuh, semakin tidak terasa sakit? Gagal bukan sesuatu yang memalukan. Itu adalah sesuatu yang bikin kita kebal dari rasa sakit saat gagal selanjutnya. Dan rasa kebal akan sakit itulah yang bikin kita terus mencoba tanpa takut lagi.

Dan sekarang, di sinilah saya. Starbucks Thamrin. Menunggui Fauzi yang sedang psikotes dalam rangka lamaran kerja setelah sebelumnya mengantar sampai depan ruangan tes dan bilang, “Have heart my dear”.

He needs me now. I cannot and will not walk away from him. Not now when he needs me the most. He wants me to be there for him, so here I am. For him. For my somebody. Saya akan terus mendukungnya hari ini, walaupun itu berarti saya harus menunggu dia sendirian di Starbucks, menyiksa diri dengan kafein berlebih, dan yang paling nggak enak: seharian. Ya, saya akan seharian ada di sini. Dan saya tidak akan komplain.Karena,  selain alasan Fauzi selalu ada buat saya, saya juga suka banget liat pemandangan dari sini. Sudirman-Thamrin merupakan my favorite spot di Jakarta, selain Kemang. Dan, by the way, satu alasan lagi, kopinya enak. Kayaknya abis ini saya pesen lagi sambil ngemil nggak jelas (tapi jelas jatuh miskinnya T_T ).

So, be there for your somebody, guys. You will feel this life is worth living by supporting each other. :)

The Wolfman -Movie Experience-

Posted: 24th February 2010 by bubble_gunz in Les Films et Plus (Movies and More...)

Kenapa judul kali ini movie experience dan tidak movie review seperti biasanya? Karena, selain movie-nya, saya akan review pengalaman nonton di Pejaten Village XXI kemarin.

The Wolfman merupakan remake film dengan judul yang sama keluaran tahun 1941. Film ini menceritakan Lawrence Talbot (Benicio Del Toro) yang pulang ke Balckmoor setelah lama tidak kembali ke rumahnya. Lawrence sendiri memiliki masa lalu yang kelam, di mana ia melihat kematian ibunya serta dirawat di rumah sakit jiwa karena ia tidak mampu menanggung kenangan itu. Kepulangan Lawrence kali ini atas permintaan Gwen Conliffe (Emily Blunt) untuk mencari tunangannya, Ben Talbot, yang merupakan adik dari Lawrence. Di rumahnya, Lawrence bertemu ayahnya, sir John Talbot (Anthony Hopkins), yang mengatakan bahwa jasad adiknya telah ditemukan dengan kondisi sangat mengenaskan. Dengan ini, Lawrence memulai pencariannya dari perkemahan gipsi. Di sini sesuatu yang mengerikan terjadi padanya dan ia terkutuk selamanya. Hingga kemudian dengan kutukan itu, ia menguak rahasia keluarga yang selama ini terpendam dan kenyataan yang mengejutkan.

Film ini oke banget menurut saya. Seru dan bikin jantung deg-degan karena horornya kerasa banget. Pemilihan Benicio Del Toro sebagai aktor merupakan langkah pintar. Karena, Benicio Del Toro kayaknya pas banget jadi manusia serigala yang kadang mellow. Anthony Hopkins juga memainkan akting karakter antagonis yang terselubung (SPOILER ALERT) dengan meyakinkan. Remake film ini bagus dan nggak ngasal (seperti remake film ala Hollywood lain), suasana horor bisa dibangun dengan apik, dan timing rilisnya pas sekali. Di antara tema vampir dan werewolf menawan ala Twilight, sepertinya memang sudah waktunya mengembalikan monster-monster itu ke habitatnya. Yaitu sifat aslinya yang memang sadis, mengerikan, dan kejam. Tidak selalu menawan dan berotot seksi seperti Jacob (Twilight Saga) yang ganteng itu. Di film ini bisa kita lihat manusia seriga yang bener-bener uncontrollable dan unstoppable (kecuali ketika berhadapan dengan wanita yang dicintainya). Sesuatu yang fresh karena selama ini kita dicekoki cerita bahwa menjadi terkutuk itu keren. Ending-nya juga oke dan tidak menggampangkan. Bahwa, kutukan itu nggak ada obatnya. Tidak lantas dengan menemukan cinta sejati kutukan itu bisa hilang. Yang bisa kita lakukan adalah, seperti dalam film ini, set them free.

Namun, di beberapa bagian film ini mudah ditebak. Saya bisa tahu bahwa ada sesuatu yang lain dari sir John sejak pertama kali melihat. Ada sih unsur surprise-nya, tapi agak kurang karena sejak melihat senyum licik Anthony Hopkins, saya tahu bahwa film ini tidak sesederhana memburu werewolf biasa. There’s something wrong with him. Dan kemudian ada satu hal yang saya pertanyakan, (SPOILER ALERT! WOOT, WOOT!) kalau John Talbot juga werewolf, kenapa di awal film waktu dia membacakan puisi sambil melihat bulan purnama dia nggak bertransformasi? Itu aja sih yang aneh.

Dan lagi, saya agak nyesel nontonnya di Pejaten Village. Orangnya mewakili semua golongan yang saya benci ketika nonton film. Ndeso!

Pertama, ada orang di depan saya yang duduknya nggak nyandar ke kursi. Saya jadi nggak konsen, mau lihat Benicio Del Toro nan cute dan mellow itu, ataw harus ngejitak kepala tuh orang yang ngalangin pandangan saya?

Kedua, ada hape berbunyi TERUS MENERUS sepanjang film. Hellooo… nggak ada yang tau teknologi namanya silent mode dan vibrating alert ya? Jadinya, pas enak-enak horor menyeramkan, tiba-tiba ada ring sms kenceng banget.

Ketiga, ada lagi yang tiba-tiba nerima telepon dengan suara TERIAK-TERIAK! Ya ampun, ini bioskop apa lapangan bola sih? Itu orang juga nggak pernah diajari tata karma ya? Sampe harus teriak-teriak gitu? Saya jadi berfantasi yang di dalem film yang nerima telponnya dan bilang, “Sori, lagi berburu werewolf. Bisa telpon nanti aja? Ganggu yang nonton tuh.”

Keempat, ada orang nggak penting yang KETAWA pas lagi adegan horor. Merusak suasana. BANGET!

Kelima, ada orang ngobrol dengan orang DI BELAKANGNYA, catat di belakangnya, bukan di sampingnya, dengan volume 10 desibel. Okelah, kalo orangnya di sebelah, kayak saya sama Fauzi, yang ngomentarin film tapi bisa sambil bisik-bisik. Tapi, itu di belakangnya. Harus noleh dan harus teriak-teriak kan biar bisa kedengeran? Yang mana, sangat mengganggu.

Keenam, orang dua deret di depan saya, menerima sms tengah-tengah nonton film. Dan itu hape diangkat tinggi-tinggi, dibaca lama sekali smsnya, dan ngetik balesannya sumpah lelet banget. Saya silau dengan cahaya hape itu di belakang. Saya kesel. Saya makan ati. Seriously, guys, belajar di mana sih etika nonton kayak gitu? Kayak orang nggak pernah nonton bioskop aja. Norak.

Yang saya simpulkan dari pengalaman nonton saya kali ini, ternyata masih banyak orang Indonesia yang kurang menghargai film. Nonton film tingkah lakunya masih kayak nonton layar tancep. Padahal, biaya yang dibutuhkan buat bikin film kan nggak sedikit, apa salahnya sih menyingkirkan sejenak urusan di luar film (baca: sms-an, telepon, teriak-teriak) demi memaknai film itu? Dan, plis, jangan norak sampai bikin orang lain jadi nggak konsen atau malah mengganggu kenikmatan orang lain.

Untuk filmnya sendiri 4 out of 5. Pengalaman horor yang kerasa banget dan usaha remake yang tetap bagus dan terjaga temponya.

Untuk Pejaten Village XXI, 0.5 out of 5. Ini adalah pengalaman terburuk saya menonton film. Saya janji nggak bakal nonton di sini lagi. Bukan masalah XXI-nya, masalahnya adalah orang yang nonton semuanya nggak punya aturan. Mendingan nonton di Plaza Indonesia XXI, lebih mewah, lebih murah, tapi orangnya tetep sopan dan sophisticated.

Rekomendasi saya, tonton filmnya, tapi jangan nonton di tempat yang sama seperti saya. Coba tonton di Plaza Indonesia saja kalau tetep mau murah (nomat: Rp. 15.000) tapi orangnya nggak berisik dan ngeselin. :)